Kripto Belum Rebound, Tapi 22,69 Juta Akun Sudah Terjun ke Pasar
Kredit Foto: Azka Elfriza
Pasar aset kripto masih berada dalam fase bearish meski peluang pemulihan mulai menjadi perhatian pelaku pasar.
Chief Executive Officer Bybit Indonesia Lawrence Samantha menilai kondisi pasar saat ini masih berada di bawah siklus, di tengah pengaruh faktor makro global seperti konflik Timur Tengah dan pergerakan dolar AS yang fluktuatif.
“Saya rasa selama ini secara makro tidak cuma di Indonesia dan kebetulan juga sekarang juga ada makro global dengan konflik di Timur Tengah, kemudian juga dengan US dollar sendiri juga mengalami penguatan atau pelemahan itu yang juga cukup fluktuatif. Jadi bisa dibilang sih sekarang saya melihatnya sih sekarang memang masih cycle-nya masih di bawah,” kata Lawrence saat ditemui usai acara konferensi pers Bybit Indonesia's New Financial Platform di Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Lawrence menilai, kondisi pasar yang masih berada dalam fase bawah siklus tidak serta-merta menghilangkan peluang bagi investor dan trader. Ia melihat, sebagian pelaku pasar tetap aktif melakukan transaksi meski kondisi harga belum sepenuhnya pulih.
“Yang beda kan hanya price point-nya tapi sebenarnya secara secara peluang sebenarnya ada terus,” katanya.
Mengenai teori siklus empat tahunan yang kerap digunakan untuk membaca pergerakan pasar kripto, Lawrence mengatakan bahwa berdasarkan pola tersebut pasar berpeluang memasuki fase pemulihan pada tahun depan.
“Kalau percaya dengan teori cycle 4 tahun harusnya by next year sudah rebound karena ini memang turunnya mulai dari awal tahun kemarin,” ujarnya.
Namun, ia menegaskan pandangan tersebut bukan merupakan prediksi harga dari Bybit. Soal prediksi harga Bitcoin, ia tidak bisa memberikan proyeksi maupun puncak pasar berikutnya.
“Forecast, ini bukan forecast dari Bybit ya kita tidak bisa forecast predict harga, nobody can,” kata Lawrence.
Di tengah kondisi bearish, ia menyebut volume perdagangan aset kripto pada 2026 masih berada di atas level pada bear market 2022. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan ukuran pasar saat ini telah berkembang dibandingkan siklus sebelumnya.
“Tapi seperti yang saya bilang tadi volume perdagangan kripto di tahun 2026 yang katanya turun tapi bandingin aja sama 2022 masih jauh lebih tinggi. Jadi itu yang rasanya perlu ditekankan. The market is bigger now,” pungkasnya.
Sekedar informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juni 2026 mencatatkan jumlah akun pedagang aset keuangan digital berada dalam tren meningkat mencapai 22,69 juta akun konsumen pada posisi Juni 2026 atau tumbuh 1,32 persen mtm dibandingkan data Mei 2026 sebesar 22,40 juta konsumen.
Berdasarkan nilai transaksi, selama bulan Juni 2026 tercatat sebesar Rp28,58 triliun atau meningkat 24,20 persen mtm dari Mei 2026 sebesar Rp23,01 triliun.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: