Prabowo Tersandera 'Warisan' Jokowi hingga Dianggap Tak Bisa Memimpin: Kesalahan 10 Tahun Lalu...
Kredit Foto: Tangkapan layar Youtube TV Parlemen
Presiden Prabowo Subianto menghadapi kritik dari berbagai arah terkait jalannya pemerintahan. Bahkan, sejumlah pihak mulai mempertanyakan kemampuannya dalam memimpin setelah muncul berbagai polemik meski sebenarnya hal tersebut bersumber dari kebijaka yang diambil oleh Presiden Indonesia Ke-7 Joko Widodo (Jokowi).
Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Ferdinand Hutahaean menilai pemerintahan saat ini harus menghadapi berbagai persoalan yang merupakan warisan dari pemerintahan sebelumnya yang telah berlangsung selama satu dekade.
Baca Juga: Di Balik Keseleo Lidah Prabowo Jadi Masalah Besar: Inilah Bangsa Kita, Mengapa Tak Kunjung Maju...
"Ada politisi-politisi di zaman lalu berkuasa penuh 10 tahun, tapi mereka merasa bahwa kegagalan sekarang ini adalah karena Prabowo tidak mampu memimpin. Salah, kegagalan bangsa sekarang ini adalah kesalahan dari 10 tahun pemerintahan yang lalu," jelas Ferdinand, dikutip Rabu (19/8/2026).
Ferdinand menyoroti kecenderungan sebagian pihak yang menjadikan berbagai kesalahan atau polemik di era saat ini sebagai dasar untuk menilai pemerintahan saat ini gagal. Menurutnya, penilaian terhadap pemerintahan tidak bisa dilepaskan dari kondisi yang diwariskan ketika masih bekuasanya Jokowi.
"Kesalahan 10 tahun yang lalu itu pemerintah siapa? Mereka yang membuat kita begini," bebernya.
Ferdinand menilai tantangan yang dihadapi presiden tidak sederhana. Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah kondisi ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global dan beban utang negara.
Karena itu, ia menganggap perdebatan mengenai kesalahan pengucapan seharusnya tidak mengambil porsi terlalu besar dalam diskusi publik. Menurut Ferdinand, persoalan seperti pernyataan tentang penggilingan padi, pekerja pengupas bawang, dokter terbang maupun ambulans terbang bukanlah inti persoalan bangsa.
Ia meminta masyarakat melihat masalah secara lebih menyeluruh, termasuk bagaimana Indonesia menghadapi tekanan ekonomi dan menjaga APBN.
"Sekarang masalah bangsa ini jauh lebih besar, bagaimana kesiapan kita dengan kondisi ekonomi global seperti ini dan kondisi kas negara kita yang patut kita khawatirkan dengan beban utang yang besar," tegasnya.
Ferdinand juga mengingatkan bahwa masyarakat saat ini menghadapi tekanan ekonomi yang nyata. Menurutnya, kondisi tersebut semestinya menjadi perhatian utama dibandingkan memperpanjang perdebatan mengenai salah ucap seorang presiden.
Ferdinand tidak menampik bahwa pemerintah tetap harus dikritik. Namun, ia meminta kritik tersebut tidak dilakukan dengan mengabaikan persoalan struktural yang telah terbentuk sebelumnya.
Menurutnya, jika setiap masalah langsung dibebankan kepada pemerintahan yang sedang berjalan, publik justru kehilangan kesempatan untuk memahami akar persoalan. Karena itu, ia mengajak seluruh kelompok politik dan masyarakat sipil berhenti saling menyalahkan dan mulai mencari solusi.
"Jadi kalau sekarang malah cenderung menyalahkan Prabowo, apa yang mau kita gali? Mari kita sama-sama, ini masalah bersama kita. Mari kita bersama-sama mencari jalan keluar," serunya.
Ferdinand juga menilai persatuan dibutuhkan untuk menghadapi persoalan yang telah berlangsung lama, termasuk praktik oligarki dan korupsi.
"Persatuan dibutuhkan untuk kita bisa mengakhiri semua pesta, pora, oligarki, dan koruptor yang subur tumbuh sampai 10 tahun lalu. Ini memiskinkanku," bebernya.
Ferdinand menempatkan persoalan utang sebagai salah satu tantangan besar yang membutuhkan perhatian bersama. Ia meminta masyarakat tidak terjebak pada polemik yang menurutnya bersifat remeh-temeh.
Baca Juga: Amien Rais: Solo Punya Target Politik Tunggal, Yakni Gagalkan Pemerintahan Prabowo
"Kita punya banyak urusan yang jauh lebih penting. Membawa bangsa ini keluar dari jerat utang ini, harus kita pikir," kuncinya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar