Panggilan Penipuan Makin Brutal, Melonjak 3 Kali Lipat hingga Juni 2026
Kredit Foto: Unsplash/Andrew Le
Menurut data, panggilan penipuan atau scam call di Indonesia meningkat lebih dari tiga kali lipat pada Juni 2026 dibandingkan Januari 2026. Panggilan penipuan mencapai 10,24% dari seluruh panggilan yang ditandai pada Juni.
Temuan tersebut berdasarkan data Kaspersky Who Calls, aplikasi identifikasi penelepon dan pemblokiran panggilan milik Kaspersky, yang menganalisis aktivitas panggilan di Indonesia sepanjang Januari hingga Juni 2026.
Pada Januari 2026, panggilan penipuan tercatat sebesar 2,55% dari seluruh panggilan yang ditandai. Angka tersebut kemudian berfluktuasi sepanjang periode pengamatan dan mencapai 10,24% pada Juni.
Persentase terendah tercatat pada Februari, yakni 1,62%. Sementara itu, aktivitas scam call mencapai titik tertinggi sebesar 11,09% pada Mei sebelum kembali berada di level 10,24% pada Juni.
Kaspersky menilai fluktuasi tersebut menunjukkan ancaman panggilan penipuan yang terus berkembang dan sulit diprediksi.
Di sisi lain, panggilan spam masih menjadi kategori panggilan yang paling dominan di Indonesia. Sepanjang periode Januari-Juni 2026, spam call secara konsisten mencakup lebih dari 65% dari seluruh panggilan yang ditandai.
Puncaknya terjadi pada April 2026, ketika panggilan spam mencapai 74,7%.
Kaspersky mengatakan penjahat siber kini tidak hanya mengandalkan panggilan suara untuk melancarkan aksinya. Seiring meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap smartphone, perangkat tersebut semakin banyak dimanfaatkan untuk komunikasi, belanja, pembayaran, hiburan, hingga mengakses berbagai layanan digital.
Salah satu metode yang masih banyak digunakan adalah phishing melalui tautan yang mengarahkan korban ke situs palsu. Situs tersebut biasanya dibuat menyerupai situs resmi dengan menggunakan domain palsu atau teknik typosquatting.
Tautan phishing kini tidak hanya disebarkan melalui email, tetapi juga melalui pesan teks, aplikasi pesan instan, media sosial, tawaran pekerjaan palsu, hingga giveaway aset kripto.
Bahkan, akun aplikasi pesan instan yang telah diretas semakin sering dimanfaatkan untuk menyebarkan penawaran penipuan yang seolah-olah berasal dari orang yang dikenal korban.
Kaspersky juga menemukan meningkatnya minat penjahat siber terhadap kredensial platform pesan instan dan portal layanan pemerintah. Data tersebut dapat dimanfaatkan untuk melakukan pencurian identitas maupun mengambil alih akun korban.
"Para penipu kini berkembang melampaui metode phishing email tradisional dan telah merambah jauh ke dalam ekosistem seluler," ujar Head of Consumer Channel untuk Asia Pasifik di Kaspersky, Choon Hong Chee dalam keterangan tertulis, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, pelaku serangan terus mencari cara baru untuk memanipulasi pengguna secara langsung melalui smartphone, mulai dari kampanye hadiah palsu, tawaran belanja penipuan, iklan berbahaya, hingga tautan phishing.
Agar terhindar dariĀ scamĀ tersebut, pengguna diminta lebih waspada terhadap berbagai bentuk komunikasi yang berpotensi menjadi modus penipuan.
Pengguna disarankan tidak sembarangan mengeklik tautan yang diterima melalui pesan, email, media sosial, maupun iklan daring. URL situs juga perlu diperiksa secara teliti sebelum pengguna memasukkan informasi pribadi.
Selain itu, pengguna diminta mewaspadai hadiah, giveaway, survei, maupun tawaran pekerjaan yang datang secara tiba-tiba.
Kaspersky juga menyarankan masyarakat mengaktifkan autentikasi multifaktor pada akun penting, segera memasang pembaruan keamanan, menggunakan solusi keamanan siber di perangkat seluler, serta memantau aktivitas akun secara berkala.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: