Krisis Chip Global Ubah Pilihan Smartphone: Kini yang Dicari Punya Daya Tahan Baterai Lama
Kredit Foto: Unsplash/Gilles Lambert
Kelangkaan chip memori global membuat harga smartphone naik sepanjang 2026. Produsen memori mengalihkan kapasitas produksi DRAM dan NAND ke chip untuk pusat data kecerdasan buatan (AI) yang memberi margin jauh lebih tinggi.
Akibatnya, konsumen disarankan mulai memprioritaskan daya tahan baterai dan ketahanan fisik ponsel, bukan lagi spesifikasi seperti kapasitas RAM.
Harga jual rata-rata smartphone global diproyeksikan naik 27,6 persen menjadi USD581 (sekitar Rp10,3 juta) pada 2026, menurut data IDC. Tekanan harga ini diperkirakan berlangsung lama.
Pabrik memori baru baru akan berproduksi penuh pada 2027, sementara IDC memproyeksikan tekanan berlanjut setidaknya hingga 2028. Sejumlah eksekutif produsen bahkan memperingatkan ketimpangan pasokan bisa bertahan melewati 2030.
Ketika biaya komponen melonjak, produsen punya dua pilihan: menaikkan harga atau menyesuaikan konfigurasi. Sepanjang 2026, keduanya terjadi. Beberapa flagship tetap menggunakan RAM 12GB dan tidak naik ke 16GB.
Di kelas menengah, konfigurasi RAM dan penyimpanan disesuaikan, sementara sebagian model entry-level turun ke 4GB DRAM agar harganya tetap terjangkau.
Shenghao Bai, Senior Analyst Counterpoint Research, mencatat perubahan juga menyentuh komponen lain. “Pada sejumlah model, kami melihat penurunan komponen seperti modul kamera, layar, dan komponen audio,” ujarnya.
Chip memori untuk pusat data AI kini menyerap sekitar 70 persen produksi global, dengan margin 3–5 kali lebih tinggi dibanding memori konsumen. Akibatnya, pasokan DRAM 2026 hanya tumbuh 16 persen dan NAND 17 persen, di bawah rentang normal 20–30 persen.
Harga DRAM global naik lebih dari 50 persen pada kuartal I 2026, sementara NAND Flash melonjak lebih dari 90 persen. Pada kuartal II 2026, biaya memori tercatat naik hampir 300 persen dibanding tahun sebelumnya.
Francisco Jeronimo, Vice President IDC, menggambarkan situasi ini sebagai guncangan setara tsunami di rantai pasok memori. Ryan Reith dari IDC menambahkan bahwa kelangkaan ini akan menekan pasar smartphone sepanjang 2026. Proyeksi penurunan pengiriman global bahkan direvisi dari 1–5 persen di awal tahun menjadi 16,7 persen.
Segmen Murah Paling Terpukul
Beban kenaikan biaya paling berat dirasakan di segmen entry-level. Memori menyumbang 15–20 persen dari biaya komponen ponsel kelas menengah, tetapi hanya 10–15 persen pada flagship.
Biaya komponen ponsel di bawah USD200 naik 20–30 persen sejak awal 2026. Segmen di bawah USD100 bahkan anjlok hampir 60 persen pada kuartal II 2026.
Di Indonesia, pengiriman smartphone turun 9 persen secara tahunan pada kuartal I 2026. Kenaikan harga berkisar 7–45 persen. Segmen entry-level di bawah USD150 turun 19 persen, sementara segmen premium di atas USD600 justru tumbuh 30 persen dan mencapai kontribusi rekor 8,3 persen.
"Segmen entry-level paling terpukul. Konsumen di segmen ini memilih menunda pembelian atau beralih ke ponsel bekas,” kata Shilpi Jain, Senior Analyst Counterpoint Research.
Tiga Ukuran Baru Memilih Ponsel
Nabila Popal, Senior Research Director IDC, menegaskan bahwa era smartphone ultramurah telah berakhir. Konsumen kini disarankan menilai ponsel berdasarkan:
- Daya tahan baterai, sanggup bertahan seharian dan masih layak setelah dua hingga tiga tahun.
- Konsistensi performa, tetap responsif dan tidak melambat drastis setelah setahun pemakaian.
- Umur pakai, ketahanan fisik, ketersediaan suku cadang, serta durasi dukungan pembaruan sistem dan keamanan.
Dengan tekanan harga yang bersifat jangka panjang, cara lama memilih ponsel hanya berdasarkan angka spesifikasi dinilai sudah tidak relevan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: