Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Cadangan Emas Pongkor Menipis, DPR Peringatkan Antam Tak Sekadar Jadi 'Trader'

        Cadangan Emas Pongkor Menipis, DPR Peringatkan Antam Tak Sekadar Jadi 'Trader' Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Komisi XII DPR RI mendorong penguatan produksi dan hilirisasi emas untuk memperbesar kontribusi komoditas tersebut terhadap devisa negara. Upaya itu mencakup penguatan eksplorasi, pengelolaan produksi emas rakyat, optimalisasi fasilitas pemurnian logam mulia (precious metals refinery/PMR) di smelter Manyar, Gresik, Jawa Timur, serta penambahan saham MIND ID pada Freeport Indonesia.

        PMR Manyar sejatinya dirancang memiliki kapasitas pemurnian hingga 50 ton emas dan 200 ton perak per tahun. Namun, pemanfaatan kapasitas tersebut belum maksimal seiring tantangan pasokan bahan baku dari sisi hulu. Total produksi emas murni diproyeksikan mencapai 21 ton hingga akhir tahun ini. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang mencapai 28 ton.

        Dengan kapasitas desain 50 ton per tahun, proyeksi tersebut baru mencapai sekitar 42%. Kondisi ini menunjukkan masih terdapat ruang yang cukup besar untuk meningkatkan produksi dan pemanfaatan fasilitas pemurnian emas di dalam negeri.

        Anggota Komisi XII DPR RI, Arif Riyanto, mengatakan peningkatan produksi emas dalam negeri perlu menjadi perhatian untuk memperbesar nilai tambah dan potensi devisa negara. Arif menyoroti cadangan emas di tambang Pongkor yang semakin menipis. Menurut dia, kondisi tersebut perlu diantisipasi dengan meningkatkan kegiatan eksplorasi untuk menjaga keberlanjutan produksi emas nasional.

        “Kita berharap Antam bisa meningkatkan peluang eksplorasi, jangan sampai ke depan hanya trading saja,” kata Arif dalam rapat dengar pendapat Komisi XII DPR RI dengan MIND ID di Jakarta, Selasa (15/9/2026).

        Selain eksplorasi, Arif juga melihat peluang dari potensi produksi emas rakyat masuk ke dalam rantai industri formal. Selain itu, produksi PMR smelter Manyar dapat menjadi bagian dari penguatan pasokan melalui skema offtake. Upaya tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kontribusi emas produksi dalam negeri terhadap penerimaan dan devisa negara.

        Setali tiga uang, Anggota Komisi XII DPR RI Ramson Siagian menyoroti progres hilirisasi subholding MIND ID. Salah satunya smelter Manyar yang terhubung dengan ekosistem hilirisasi emas milik ANTAM.

        Menurutnya, harga emas yang berada pada level tinggi memberikan momentum ekonomi yang besar bagi Indonesia. Namun, di saat yang sama, PTFI masih menghadapi dinamika di sisi hulu maupun hilir, baik dalam pemulihan produksi Grasberg maupun optimalisasi PMR.

        Dirinya mempertanyakan komitmen dan strategi PTFI untuk memastikan tantangan tersebut tidak menjadi bottleneck dalam menangkap momentum penguatan harga emas, terutama PTFI memiliki fungsi penting dari ketahanan mineral di Indonesia.

        “Seberapa cepat PTFI dapat mewujudkan kembali rantai produksi dari Grasberg hingga PMR ke tingkat optimal, sehingga peluang nilai tambah dan manfaat ekonominya dapat semakin besar dirasakan Indonesia?” ujarnya.

        Baca Juga: MIND ID Ungkap Peredaran Emas Ilegal Papua Tengah Capai Rp4 M/Hari

        Baca Juga: Dirut Antam Usul Semua Penjual Emas Wajib Lapor Penjualan ke Ditjen Pajak

        Dalam kesempatan tersebut, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas menjelaskan bahwa fasilitas pengolahan di Gresik, yakni smelter Manyar dan PT Smelting, telah beroperasi. Namun, tingkat pasokan konsentrat saat ini baru mencapai sekitar 65%. Menurut Tony, kedua fasilitas tersebut telah berfungsi dengan baik. Freeport menargetkan tingkat operasi dapat mencapai 100% pada 2028 setelah pasokan konsentrat mencukupi.

        “Feeding konsentrat-nya 65% karena masih belum bisa sampai 100% karena masalah longsor tahun lalu,” kata Tony.

        Jawaban Presiden Direktur PTFI ini menunjukkan bahwa Indonesia masih perlu menunggu untuk dapat benar-benar mengoptimalkan peningkatan nilai tambah dari hilirisasi emas di dalam negeri.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: