Dalam 5 Tahun Terakhir, Hilirisasi Sawit Meningkat Signifikan

Dalam 5 Tahun Terakhir, Hilirisasi Sawit Meningkat Signifikan Kredit Foto: Siaran Pers/PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJ)

Menteri Perindustrian RI, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan bahwa penerapan hilirisasi industri dari ekspor olahan sawit yang didominasi produk hilir cenderung meningkat dalam kurun lima tahun terakhir. Upaya ini juga tercatat telah berkontribusi besar terhadap penerimaan devisa negara yang cukup signifikan.

Disampaikan Agus, keberhasilan Indonesia dalam melakukan hilirisasi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dapat terlihat dari rasio volume ekspor bahan baku periode Agustus 2021 yang sebesar 9,27 persen, sedangkan produk hilirnya sebesar 90,73 persen. Tidak hanya itu, ragam produk hilir yang dihasilkan juga meningkat, yakni dari 54 jenis pada tahun 2011 menjadi 168 jenis pada 2021.

Baca Juga: Kunjungan Virtual, RSPO Dorong Multi-Stakeholder Terapkan Sawit Berkelanjutan

"Hilirisasi komoditas kelapa sawit dan minyak kelapa sawit yang juga dikembangkan untuk pasar global termasuk untuk keperluan Food; Fuel, Fine Chemical, Fito-nutrient (vitamin dan nutrisi), Feed (pakan ternak), dan Fiber (serat untuk material baru)," ujar Agus dalam BeritaSatu Economic Outlook 2022 hari ke-2, di Jakarta, Selasa (23/11/2021).

Lebih lanjut disampaikan Agus, salah satu pencapaian program pengembangan industri bahan bakar nabati yang terus dilaksanakan sepanjang tahun 2020 adalah melalui program mandatori biodiesel 30 persen (B30). Kebijakan ini telah menyerap sekitar 10,2 juta ton CPO sebagai bahan baku.

Selain itu, juga berperan sebagai alat untuk demand management, menyerap oversupply produksi CPO dunia, dan mempertahankan harga CPO dunia, termasuk menjaga harga beli tandan buah segar (TBS) di tingkat petani tetap tinggi.

"Ini saja sudah menghasilkan penghematan devisa dari pengurangan impor BBM diesel sekitar Rp38,3 triliun, penciptaan nilai tambah CPO sebesar Rp13,19 triliun, dan pengurangan emisi gas rumah kaca setara CO2 sebesar 16,98 juta ton," ucap Agus.

Agus mengungkapkan, nilai tersebut dapat makin besar jika telah terbangun keterpaduan rantai pasok yang hingga saat ini masih perlu pembenahan. Sebagai contoh, pertumbuhan industri CPO dan produk CPO selama ini lebih banyak diikuti perrtumbuhan industri hulu seperti industri fatty acid, fatty alcohol, dan methyl ester. CPO belum dimanfaatkan untuk pengembangan industri hilir seperti farmasi, kosmetik, surfactant, dan kimia dasar organik.

"Padahal, dengan mengembangkan industri hilir, nilai mata rantai dan nilai tambah produk CPO akan makin tinggi. Apalagi produk CPO memiliki kaitan erat dengan sektor usaha dan kebutuhan masyarakat, seperti pupuk, pestisida, bahan aditif makanan, dan lain-lain," ungkap Agus.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini