Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Pengamat Media Kritisi Survei Galon YLKI

Pengamat Media Kritisi Survei Galon YLKI Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Dosen ilmu komunikasi, Satrio Arismunandar, mengkritisi survei dan rekomendasi yang dibuat Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) terhadap produk air minum dalam kemasan (AMDK) yang tidak berdasarkan metode penelitian ilmiah, tapi lebih pada asumsi, dugaan, kecurigaan, prasangka, ataupun “misi” tertentu.

Menurutnya, sebagai lembaga perlindungan konsumen yang sudah memiliki nama, YLKI seharusnya tidak melakukan survei yang tujuannya diduga untuk kampanye menolak produk tertentu. 

“Jika survei yang dilakukan cuma basa-basi biar dianggap ilmiah dan tidak nyambung dengan materi atau substansi yang diteliti, ini bisa berdampak negatif dan merugikan banyak pihak termasuk masyarakat. Terutama, jika argumen yang dibangun lemah dan rekomendasi yang diajukan juga terkesan dipaksakan dan mengada-ada,” ujar pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) ini dalam tulisannya di Kompasiana.

Salah satu yang menjadi sorotan Satrio dari survei YLKI itu adalah soal objek yang disurvei. Dikatakannya, populasi survei post market adalah toko yang menjual AMDK galon, meliputi supermarket, minimarket, agen, dan warung.

“Seharusnya, populasi penelitian survei konsumen adalah seluruh konsumen yang pernah atau berlangganan dalam pengkonsumsian AMDK dan bukan toko penjualnya,” ucapnya.

Satrio melihat ada beberapa kerancuan dan kelemahan dalam penelitian yang dilakukan YLKI. Menurutnya, survei YLKI dilakukan hanya untuk membuat opini negatif terhadap AMDK galon guna ulang.

“Opini seperti ini tidak bisa dijadikan dasar untuk membuat kesimpulan tentang sesuatu fakta yang harus diukur dengan alat atau instrumen yang tepat, yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” tukasnya.

Halaman:

Editor: Ferry Hidayat

Bagikan Artikel:

Video Pilihan