Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Government
Video
Indeks
About Us
Social Media

Kurikulum Merdeka Hadir untuk Proses Pembelajaran Lebih Merdeka?

Kurikulum Merdeka Hadir untuk Proses Pembelajaran Lebih Merdeka? Kredit Foto: Instagram Nadiem Makarim
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim dalam peluncuran Merdeka Belajar ke-19 bertajuk “Rapor Pendidikan Indonesia” mengungkapkan Kurikulum Merdeka hadir untuk menanggulangi krisis pembelajaran di Indonesia. Penerapan Kurikulum Merdeka diharapkan berdampak pada terciptanya generasi adaptif yang mampu bertahan menghadapi perubahan zaman dengan ‘kekuatan’ mereka sendiri. 

Hal ini diungkapkan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Anindito Aditomo yang menekankan bahwa saat ini Indonesia memerlukan kurikulum yang bersifat adaptif. Kurikulum adaptif menurutnya mengedepankan karakter serta kompetensi yang mendasar pada diri anak. 

Baca Juga: Mantap! Nadiem Makarim Dorong Bahasa Indonesia Jadi Bahasa Resmi ASEAN, Bukan Melayu!

“Dengan pola pikir yang adaptif, apapun masalah yang dihadapi mereka bisa diatasi secara mandiri karena mereka bisa berdiri di atas kekuatannya sendiri,” tutur Anindito pada acara Ngobrol Tempo, Jakarta, Senin (3/4/2022).

Dewan Pembina PGRI, Dudung Nurullah Koswara, menyampaikan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka memberikan perubahan besar terhadap guru dan siswa. Dengan mengedepankan proses pembelajaran yang esensial dan minat bakat, proses ini akan menjadi sebuah interaksi yang sesuai dan menciptakan ruang pembelajaran yang lebih positif.

Dudung menegaskan bahwa dampak yang terjadi dengan Implementasi Kurikulum Merdeka membuat proses pembelajaran di ruang kelas terasa lebih merdeka. Hal ini tentunya akan melahirkan masyarakat yang berkembang secara positif dengan cara yang lebih merdeka di masa mendatang. “Karena Kurikulum Merdeka memberikan proses pewarisan melalui proses pembelajaran yang lebih baik dan menarik,” ucap Dudung Koswara.

“Kurikulum Merdeka menciptakan ruang terbuka belajar yang membuat karakteristik dan kompetensi didiagnosa sehingga proses belajar bukan pukul rata. Anak bukan bagian dari industri pendidikan,” tekan Dudung.

Baca Juga: Nadiem Makarim Tolak Usulan PM Malaysia Jadikan Bahasa Melayu Jadi Bahasa Resmi ASEAN, Ini Alasannya

Berikutnya, Guru Besar FKIP Unika Widya Mandala Surabaya, Anita Lie turut mengapresiasi berbagai episode Merdeka Belajar termasuk salah satunya adalah Kurikulum Merdeka. Menurutnya, langkah tersebut dapat mengubah dan mentransformasikan sistem pendidikan menjadi lebih baik karena setiap episode Merdeka Belajar bergerak secara sinergis sesuai fokusnya masing-masing.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Martyasari Rizky
Editor: Aldi Ginastiar

Bagikan Artikel: