Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Kementerian Perdagangan mencatat nilai impor Indonesia sepanjang Januari–November 2025 mencapai USD 218,02 miliar atau tumbuh 2,03% secara kumulatif (cumulative to cumulative/CtC), dengan impor nonmigas sebagai pendorong utama. Dalam periode tersebut, barang asal China menjadi yang paling banyak diimpor, menjadikan negara tersebut sebagai mitra impor nonmigas terbesar Indonesia.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan bahwa meskipun nilai impor November 2025 tercatat menurun secara bulanan, kinerja impor secara kumulatif hingga November tetap menunjukkan pertumbuhan. Pada November 2025, impor Indonesia tercatat sebesar USD 19,86 miliar atau turun 9,09% dibandingkan Oktober 2025 (month on month/MoM), baik pada kelompok migas maupun nonmigas.
Dari total impor November tersebut, impor nonmigas tercatat sebesar USD 17,00 miliar, sementara impor migas mencapai USD 2,86 miliar. Penurunan bulanan ini tidak mengubah tren kenaikan impor sepanjang tahun berjalan yang didorong oleh peningkatan kebutuhan sektor industri dan investasi.
Baca Juga: China Pangkas Tarif Impor Sejumlah Produk Mulai 2026
“Secara kumulatif, impor Indonesia pada Januari–November 2025 mencapai USD 218,02 miliar atau tumbuh 2,03% (CtC). Peningkatan ini disebabkan oleh impor nonmigas yang naik 4,37% menjadi USD 188,61 miliar dibanding Januari–November 2024 yang sebesar USD 180,71 miliar,” ujar Budi Santoso dalam keterangan tertulis, Selasa (7/1/2026).
Dari sisi negara asal, impor nonmigas Indonesia masih didominasi oleh China, Jepang, dan Amerika Serikat dengan kontribusi gabungan mencapai 52,87% terhadap total impor nonmigas. Sementara itu, negara yang mencatatkan kenaikan impor tertinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya adalah Meksiko sebesar 234,22%, diikuti Uni Emirat Arab 74,86% dan Spanyol 38,32%.
Berdasarkan kelompok komoditas, beberapa jenis impor nonmigas mencatatkan kenaikan signifikan sepanjang Januari–November 2025. Komoditas garam, belerang, batu, dan semen (HS 25) meningkat 70,89% secara CtC. Selanjutnya, impor kakao dan olahannya (HS 18) naik 54,53%, serta berbagai produk kimia (HS 38) tumbuh 36,12%.
Baca Juga: Ekspor RI Turun 6,60% pada November 2025, Nonmigas Jadi Penekan
Struktur impor Indonesia hingga November 2025 masih didominasi oleh bahan baku atau penolong dengan pangsa 70,27%. Barang modal menyusul dengan porsi 20,55%, sedangkan barang konsumsi tercatat sebesar 9,18%. Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, impor barang modal meningkat 18,54%.
“Kenaikan impor barang modal yang mencapai 18,54% turut disebabkan naiknya impor central processing unit (CPU), ponsel pintar, mobil listrik selain completely knocked down (CKD), dan base station,” ujar Budi Santoso.
Sementara itu, impor bahan baku atau penolong mengalami penurunan terdalam pada komoditas bahan bakar minyak, gula tebu, kacang kedelai, bungkil pakan ternak, dan polipropilena.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait:
Advertisement