- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Freeport 'Restart' Bertahap Tambang Grasberg Kuartal II-2026, Incar Pulih 85%
Kredit Foto: PTFI
Freeport-McMoRan (FCX) menargetkan pemulihan signifikan operasional tambang bawah tanah Grasberg di Indonesia melalui rencana phased restart atau pengoperasian kembali secara bertahap yang dimulai pada kuartal II/2026, dengan sasaran kapasitas produksi mencapai 85% pada paruh kedua 2026. Langkah ini ditempuh setelah aktivitas tambang terganggu akibat insiden mud rush pada September 2025.
Manajemen FCX menyatakan fokus utama perusahaan pada 2026 adalah memastikan stabilitas dan keberlanjutan operasi tambang di Indonesia. Presiden dan CEO Freeport-McMoRan, Kathleen L. Quirk, menegaskan pemulihan Grasberg menjadi prioritas strategis perusahaan tahun ini.
“Saat kita memasuki tahun 2026, tim kami memiliki fokus yang jelas untuk memulihkan operasi di Grasberg secara aman dan berkelanjutan,” tegas Quirk dalam laporan tahunan 2025, dikutip Jumat (23/1/2026).
Baca Juga: Produksi Freeport Indonesia Anjlok Nyaris 90% di Kuartal IV 2025
Dalam laporan tersebut, FCX merinci tahapan pengoperasian kembali tambang bawah tanah Grasberg. Manajemen menyebutkan pembukaan kembali Blok Produksi 2 dan 3 direncanakan dimulai pada kuartal II/2026. Sementara itu, Blok Produksi 1 berpotensi kembali beroperasi pada 2027.
“Rencana tersebut mencakup dimulainya kembali Blok Produksi 2 dan 3 pada kuartal kedua tahun 2026 dan potensi dimulainya kembali operasi di Blok Produksi 1 selama tahun 2027,” tulis manajemen FCX.
Gangguan operasional tersebut berdampak signifikan terhadap kinerja produksi PT Freeport Indonesia (PTFI). Volume produksi tembaga pada kuartal IV/2025 tercatat hanya 49 juta pon, merosot tajam dibandingkan 429 juta pon pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, tekanan produksi tersebut sebagian tertahan oleh lonjakan harga emas dunia. FCX melaporkan biaya tunai bersih unit (unit net cash costs) PTFI tetap kompetitif di level US$0,74 per pon tembaga.
Manajemen menyebutkan capaian tersebut “terutama mencerminkan kredit produk sampingan yang lebih tinggi dan bea ekspor yang lebih rendah,” seiring harga emas yang melonjak dengan rata-rata mencapai US$4.078 per ons.
Baca Juga: Grup Astra (UNTR) Respon Kabar Pencabutan Izin Anak Usaha Pengelola Tambang Martabe
Di sisi hilirisasi, FCX juga melaporkan kemajuan proyek strategis di Indonesia. Smelter PTFI di Jawa Timur telah berhasil memproduksi katoda tembaga pertama pada Juli 2025, yang menandai transformasi perusahaan menjadi produsen mineral terintegrasi penuh.
Terkait keberlanjutan operasi jangka panjang, FCX mengungkapkan tengah melakukan diskusi intensif dengan Pemerintah Indonesia untuk memperpanjang izin operasi setelah 2041.
Manajemen menilai perpanjangan izin tersebut akan membuka peluang pertumbuhan baru melalui pengembangan sumber daya tambahan di distrik mineral Grasberg, termasuk proyek Kucing Liar yang diproyeksikan mulai beroperasi penuh pada 2030.
“Perpanjangan ini akan memberikan pilihan pertumbuhan melalui peluang pengembangan sumber daya tambahan di distrik mineral Grasberg yang sangat menarik,” tulis manajemen FCX.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait:
Advertisement