Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pariwisata DMZ Dorong Ekonomi Korea Selatan

Pariwisata DMZ Dorong Ekonomi Korea Selatan Kredit Foto: KBM App
Warta Ekonomi, Jakarta -

Korea Selatan mengubah konflik geopolitik di kawasan perbatasan dengan Korea Utara menjadi sumber pendapatan ekonomi melalui pengembangan wisata Demilitarized Zone (DMZ). Kawasan yang secara teknis masih berada dalam status perang itu dikemas menjadi destinasi wisata premium yang menarik wisatawan global dan menghasilkan triliunan won setiap tahun.

Pengalaman tersebut disaksikan langsung oleh penulis Isa Alamsyah saat mengunjungi DMZ bersama rombongan penulis Diamond KBM App yakni Bunga BTP, Dwi Indrawati, Majarani, Ka_Umay, Yazmin_Aisyah, FebriYthi, Julli_Nobasa, dan Lebah Ratih dalam perjalanan yang didampingi Asma Nadia dan Panirama Tour.

“DMZ bukan kawasan yang dibuat ramah. Justru ketegangan, risiko, dan narasi konflik itulah yang dijual Korea Selatan sebagai pengalaman bernilai tinggi,” ujar Isa Alamsyah dalam catatannya selama kunjungan ke kawasan perbatasan tersebut.

DMZ dikenal sebagai salah satu zona militer paling ketat di dunia. Jarak yang cukup jauh dari Seoul serta tingkat pengamanan yang tinggi tidak menurunkan minat wisatawan. Sebaliknya, faktor tersebut menjadi daya tarik utama yang membedakan DMZ dari destinasi wisata lain.

Salah satu paket yang paling diminati adalah The Third Tunnel Tour. Wisatawan diajak menelusuri terowongan bawah tanah sedalam sekitar 73 meter yang diyakini dibangun Korea Utara sebagai jalur infiltrasi militer. Terowongan itu disebut mampu dilalui hingga 30.000 tentara bersenjata dalam waktu satu jam.

“Masuk ke terowongan itu rasanya seperti berjalan di dalam skenario perang yang nyata. Menyeramkan, tapi justru itulah yang dicari wisatawan,” kata Isa.

Selain itu, tersedia paket observatorium dan gondola yang memungkinkan pengunjung meneropong langsung wilayah Korea Utara dari dataran tinggi. Harga tiket masuk berkisar KRW 15.000–25.000, di luar biaya transportasi yang dapat mencapai jutaan rupiah. Imjingak Park juga menjadi titik kunjungan penting dengan museum persenjataan dan Jembatan Kebebasan sebagai simbol konflik Korea.

Menurut Isa, strategi Korea Selatan tidak hanya terlihat dari pengelolaan objek wisata, tetapi juga dari infrastruktur penunjang di sekitar perbatasan. Jalan-jalan raya utama menuju DMZ dibangun lebar tanpa pemisah permanen di tengahnya.

“Jalan raya itu didesain agar bisa langsung berfungsi sebagai landasan darurat pesawat tempur jika perang pecah. Ini contoh bagaimana fungsi sipil dan militer dirancang menyatu,” ujarnya.

Status gencatan senjata yang masih berlangsung membuat Korea Selatan secara hukum belum menandatangani perjanjian damai dengan Korea Utara. Namun, kondisi tersebut justru dikemas menjadi narasi terbuka yang dikonsumsi publik global.

Narasi konflik itu diperkuat melalui industri budaya populer. Lokasi perbatasan kerap muncul dalam film dan drama Korea, seperti Crash Landing on YouJSA (Joint Security Area)The Spy Gone North, hingga film komedi 6/45 yang dirilis pada 2022.

“Pop culture membuat konflik ini terasa dekat, emosional, dan ‘manusiawi’. Dampaknya, orang ingin melihat langsung lokasi aslinya,” kata Isa.

Bagi Isa dan para penulis Diamond KBM App, kunjungan ke DMZ tidak hanya menjadi perjalanan wisata, tetapi juga studi lapangan tentang bagaimana konflik dapat diolah menjadi nilai ekonomi.

“Korea memberi pelajaran penting: konflik bukan hanya tragedi, tetapi juga bisa menjadi modal kreatif jika dikelola dengan narasi yang tepat,” ujarnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait:

Bagikan Artikel: