Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Outlook Kredit Moody's Negatif, Ekonom Beberkan Dampaknya ke IHSG Hingga Rupiah

Outlook Kredit Moody's Negatif, Ekonom Beberkan Dampaknya ke IHSG Hingga Rupiah Kredit Foto: Annisa Nurfitri
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kreditur pemeringkat Moody’s Investors Service menurunkan outlook kredit Indonesia menjadi negatif dengan peringkat Baa2. Perubahan outlook tersebut dinilai berpotensi menekan arus modal asing, pasar saham, hingga nilai tukar rupiah.

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, mengatakan outlook negatif Moody’s memperkuat sikap risk-off investor asing terhadap aset Indonesia. Kondisi ini terutama dipengaruhi oleh isu transparansi dan likuiditas pasar yang kembali mencuat.

“Terutama saat isu transparansi dan likuiditas pasar ikut mencuat. Reuters mencatat arus jual asing dan pelemahan IHSG di awal tahun, yang menunjukkan pasar menghukum lewat harga, bukan lewat debat,” kata Syafruddin dalam keterangannya, Jakarta, dikutip Sabtu (7/2/2026). 

Baca Juga: BUMN Kena Sengatan Moody's, Outlook PLN, PGN, Pelindo, dan Hutama Karya Jadi Negatif

Moody’s menyoroti lemahnya prediktabilitas kebijakan serta sinyal pelemahan tata kelola sebagai alasan utama perubahan outlook tersebut.

Menurutnya, outlook negatif Moody’s melihat risiko penurunan peringkat meningkat dalam horizon ke depan jika faktor pemicunya tidak membaik. 

“Pasar langsung menerjemahkan sinyal ini sebagai kenaikan premi risiko, rupiah rapuh, obligasi dolar melemah, dan IHSG tetap tertekan setelah gelombang sentimen negatif yang juga dipicu peringatan MSCI terkait transparansi,” tambahnya.

Dampak lanjutan juga dirasakan pada biaya pendanaan. Syafruddin menyebut, ketika outlook kredit memburuk, investor cenderung meminta imbal hasil yang lebih tinggi untuk menanggung risiko Indonesia.

Ia menyebut, efeknya terasa pada harga obligasi (yield naik) dan biaya penerbitan utang baru, baik untuk pemerintah maupun korporasi. 

Reuters mencatat, obligasi dolar bertenor panjang melemah dan pelaku pasar memantau secara ketat respons otoritas, mengingat kredibilitas kebijakan akan menentukan apakah tekanan di pasar keuangan dapat mereda atau justru berlanjut.

“Jika tekanan bertahan, pemerintah menghadapi ruang fiskal yang menyempit karena porsi pembayaran bunga cenderung naik,” ucapnya. 

Baca Juga: Seret Dua Anak Usaha Astra dan BUMN Pembiayaan, Moody’s Beri Outlook Negatif

Sementara terhadap nilai tukar rupiah, Syafruddin menyebut outlook negatif memperkuat narasi bahwa risiko kebijakan meningkat, sehingga permintaan aset rupiah melemah. 

Pelemahan rupiah tersebut berpotensi menambah tekanan inflasi melalui kenaikan harga barang impor dan biaya produksi yang bergantung pada input impor.

“Literatur independensi bank sentral menekankan bahwa kredibilitas institusi moneter menambatkan ekspektasi inflasi, ketika publik meragukan independensi atau konsistensi kebijakan, volatilitas cenderung meningkat dan transmisi ke inflasi lebih mudah terjadi,” tuturnya. 

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Cita Auliana
Editor: Fajar Sulaiman

Bagikan Artikel: