Kredit Foto: Freepik
Pengumuman mendadak dari pengelola indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait evaluasi indeks Februari 2026 langsung menggoyang pergerakan sejumlah saham. Rebalancing yang dirilis Selasa (10/2) malam waktu setempat itu memicu respons variatif di pasar pada perdagangan Rabu (11/2).
Dalam pengumumannya, MSCI menurunkan saham emiten Grup Salim, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dari MSCI Global Standard Indexes ke MSCI Small Cap Indexes.
Sementara di indeks MSCI Small Cap, dua saham Indonesia terdepak, yakni PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) dan PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO). Adapun pada MSCI Micro Cap Indexes, tidak terdapat perubahan untuk saham Indonesia, sehingga tidak ada penambahan maupun penghapusan emiten di indeks tersebut.
Rebalancing ini dijadwalkan berlaku setelah penutupan perdagangan pada 27 Februari 2026 dan efektif mulai 2 Maret 2026.
Baca Juga: Hashim Sebut Prabowo Murka Saat MSCI Guncang Pasar Modal
Respons pasar pun terlihat pada pergerakan saham terkait. Saham INDF pada pagi hari tadi dibuka melemah ke level Rp6.700 dan tekanan tersebut berlanjut hingga akhir sesi. Pada penutupan perdagangan, INDF tercatat turun 200 poin atau 2,90% ke level Rp6.700.
Sementara itu, saham ACES bergerak fluktuatif. Saham ini dibuka melemah di Rp404, turun hingga Rp400, lalu berbalik ke zona hijau dan sempat menyentuh level Rp410. Pada penutupan sore ini, ACES terpantau naik tipis 2 poin atau 0,49% ke level Rp408.
Pergerakan serupa juga terjadi pada CLEO. Saham emiten Hermanto Tanoko ini dibuka stabil di Rp394, sempat turun ke Rp390, kemudian berbalik menguat hingga menyentuh Rp400 sebagai level tertinggi hariannya. Pada akhir perdagangan, CLEO ditutup naik 4 poin atau 1,02% ke level Rp398.
Baca Juga: Tanggapi Rebalancing MSCI, OJK Sebut Pasar Sudah Antisipasi dan Beri Respon Positif
Sebelumnya, MSCI memutuskan membekukan sementara sejumlah perubahan indeks yang melibatkan saham Indonesia pada Januari 2026. Kebijakan ini muncul di tengah kekhawatiran investor global terkait transparansi data kepemilikan saham serta aspek investabilitas pasar domestik.
Langkah tersebut diambil setelah MSCI menyelesaikan proses konsultasi terkait penilaian free float saham Indonesia. Dalam proses itu, sebagian pelaku pasar internasional mendukung penggunaan laporan Monthly Holding Composition dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai referensi tambahan.
Namun, mayoritas investor justru menyoroti kekhawatiran serius terkait klasifikasi pemegang saham dalam data KSEI, yang dinilai berpotensi menimbulkan bias dalam penilaian kepemilikan. Meski terdapat perbaikan minor pada data free float yang disediakan BEI, para investor menilai persoalan mendasar masih belum sepenuhnya terselesaikan.
Baca Juga: Rupiah Menguat Usai Gejolak MSCI, BI Klaim Kepercayaan Pasar Kembali
Adapun tindakan rebalancing kali ini masih sejalan dengan kebijakan pembekuan indeks yang telah diumumkanĀ tersebut, yakni mencakup penangguhan penambahan konstituen ke dalam MSCI Investable Market Indexes serta tidak mengizinkan migrasi naik antar segmen ukuran indeks.
Seiring kebijakan tersebut, evaluasi kali ini hanya mencakup penghapusan saham dari indeks serta perpindahan turun antar segmen ukuran. MSCI tidak melakukan penambahan saham baru maupun migrasi naik dalam peninjauan ini.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri