Berbeda dengan Salesforce, IBM Pilih Perkuat Tenaga Kerja Manusia di Era AI
Kredit Foto: Instagram/ibm
Raksasa teknologi IBM berencana meningkatkan perekrutan karyawan tingkat awal (entry level) di Amerika Serikat hingga tiga kali lipat pada tahun 2026.
Langkah ini diambil setelah perusahaan sebelumnya memangkas sekitar 2.700 pekerja atau kurang dari 1 persen total karyawan pada akhir tahun lalu.
Meski sempat melakukan efisiensi, IBM kini justru merombak deskripsi pekerjaan tingkat awal agar tetap relevan dan mampu berdampingan dengan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Chief Human Resources Officer IBM, Nickle LaMoreaux, menjelaskan bahwa tugas rutin seperti coding dasar yang dahulu dikerjakan karyawan pemula kini memang telah diambil alih oleh AI.
Oleh karena itu, IBM mengubah fokus peran entry level pada kemampuan yang sulit diotomatisasi, seperti interaksi dengan klien dan pemahaman kebutuhan bisnis.
Di divisi sumber daya manusia, staf baru kini bertugas mengoreksi keluaran chatbot serta menangani komunikasi langsung yang tidak mampu dijawab oleh sistem otomatis.
IBM menilai bahwa menghentikan rekrutmen talenta muda berisiko menciptakan kekosongan tenaga kerja tingkat menengah di masa depan.
Tanpa pembinaan internal, perusahaan akan bergantung pada rekrutmen eksternal yang biayanya jauh lebih mahal.
Keputusan ini menunjukkan bahwa kebutuhan sumber daya manusia tidak hilang, melainkan bertransformasi mengikuti tuntutan era AI demi menjaga regenerasi talenta perusahaan.
Fenomena ini kontras dengan langkah beberapa perusahaan teknologi lain seperti Klarna yang sempat memangkas 1.200 karyawan demi AI namun kini mulai merekrut kembali karena penurunan kualitas produk.
Baca Juga: Siri Gagal Pintar Bulan Depan? Ini Alasan Apple Mendadak Tarik Fitur AI Terbaru
Di sisi lain, Salesforce juga melakukan PHK terhadap 4.000 karyawan divisi layanan pelanggan untuk digantikan agen AI.
Namun, Salesforce tetap mempertahankan tenaga manusia di bawah program "omni channel supervisor" untuk mengawasi kerja sama antara manusia dan sistem kecerdasan buatan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Christian Andy
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: