Kredit Foto: Sahril Ramadana
“Kinerja emiten sawit tetap lebih ditentukan oleh harga CPO global, kebijakan biodiesel, dan kurs rupiah,” ujarnya.
Pandangan senada disampaikan Senior Market Analyst Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas. Ia menilai apabila kebijakan pengecualian tarif tersebut benar-benar terealisasi dalam kerangka kebijakan dagang AS, dampaknya akan konstruktif bagi industri sawit domestik.
Secara psikologis, pasar dinilai akan merespons kebijakan tersebut dengan kenaikan harga saham berbasis sawit. Sejumlah emiten bahkan telah mencatatkan apresiasi harga saham dalam beberapa waktu terakhir.
Saham-saham seperti PT Eagle High Plantations Tbk, PT Astra Agro Lestari Tbk, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk, PT Dharma Satya Nusantara Tbk, PT Triputra Agro Persada Tbk, serta PT Sumber Tani Agung Resources Tbk dinilai berpotensi memperoleh sentimen positif.
“Kalau secara sentimen, saham-saham terkait seharusnya bisa mendapatkan katalis positif,” ujarnya saat dihubungi terpisah.
Baca Juga: Andalkan Sawit, Bahlil Lahadalia 'Pede' Hentikan Impor Solar
Dari sisi fundamental, kebijakan tersebut juga dinilai dapat berdampak pada kinerja top line maupun bottom line emiten sawit, terutama jika mendorong peningkatan volume ekspor dan memperkuat posisi tawar CPO Indonesia di pasar global.
“Ini memberikan indikasi positif bahwa produk CPO di dalam negeri memiliki keunggulan dibandingkan minyak nabati lainnya,” pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Disclaimer: Keputusan untuk melakukan aksi jual atau beli saham sepenuhnya ada di tangan pembaca. Segala risiko kerugian dari setiap keputusan investasi yang diambil menjadi tanggung jawab pembaca.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri