Kredit Foto: Wafiyyah Amalyris K
Dampak lanjutan dari kondisi tersebut bersifat berantai. Untuk kembali menarik minat investor, imbal hasil yang ditawarkan harus lebih tinggi. Situasi ini mendorong kenaikan cost of fund atau biaya dana, yang pada akhirnya meningkatkan biaya berbisnis di dalam negeri.
“Dampaknya adalah cost of fund menjadi lebih tinggi, sehingga berbisnis di Indonesia menjadi makin mahal dan makin sulit,” jelasnya.
Baca Juga: Tak Gubris Warning Moody’s, Prabowo Tegaskan MBG Jadi Motor Ekonomi Akar Rumput
Sebelumnya, Moody’s Ratings secara resmi mengubah outlook peringkat kredit Pemerintah Indonesia dari stabil menjadi negatif. Lembaga pemeringkat tersebut menyoroti menurunnya kepastian dan konsistensi kebijakan yang dinilai berisiko melemahkan efektivitas kebijakan serta kredibilitas institusional pemerintah.
Meski demikian, Moody’s tetap mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level Baa2 atau investment grade.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri