Kredit Foto: F5
Premi asuransi siber global justru turun rata-rata 11% sepanjang 2025 meskipun insiden keamanan siber melonjak 129% secara tahunan. Kondisi ini mencerminkan kontras tajam antara peningkatan risiko serangan siber dan kebijakan harga di pasar asuransi, berdasarkan laporan terbaru grup pialang asuransi Lockton yang dikutip Reinsurance News, Rabu (18/2/2026).
Lockton mencatat penurunan premi terjadi di seluruh portofolio asuransi siber sepanjang 2025, di tengah meningkatnya kesediaan perusahaan asuransi menanggung risiko baru dan memperluas cakupan perlindungan.
Data Pusat Keamanan Siber Nasional (National Cyber Security Centre/NCSC) menunjukkan, dalam 12 bulan hingga Agustus 2025, organisasi di tingkat nasional mengalami lonjakan 129% insiden keamanan siber signifikan. Kenaikan tersebut terutama dipicu serangan ransomware berskala besar yang berdampak langsung terhadap operasional dan kinerja keuangan perusahaan.
Meski risiko meningkat tajam, Lockton mencatat tren penurunan tarif berlangsung konsisten sepanjang tahun lalu. Penurunan premi tercatat cukup signifikan pada paruh pertama 2025, kemudian melambat pada paruh kedua. Tren ini diperkirakan masih berlanjut hingga paruh pertama 2026.
Baca Juga: Bitcoin Bearish, Pemulihan Dinilai Tak Akan Terjadi Cepat
“Kombinasi ini—berupa cakupan yang lebih luas disertai daya saing harga yang tetap terjaga—terjadi meskipun tahun 2025 menyaksikan sejumlah insiden siber paling berdampak dalam beberapa tahun terakhir, dengan beberapa serangan ransomware besar yang secara signifikan memengaruhi kinerja laba perusahaan,” kata Lockton dalam laporannya.
Lockton juga menyoroti perubahan karakter risiko siber yang kini tidak hanya berdampak pada korporasi, tetapi mulai menjangkau konsumen secara langsung.
“Hal itu juga bisa dibilang menjadi pertama kalinya sebuah insiden siber memberikan dampak langsung dan signifikan terhadap konsumen di Inggris, sehingga turut meningkatkan kesadaran publik terhadap keamanan siber ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya,” lanjut Lockton.
Dari sisi klaim, peningkatan risiko tercermin pada lonjakan klaim asuransi siber. Portofolio Lockton mencatat nilai klaim meningkat sekitar 20% sepanjang 2025, terutama terkait kasus pelanggaran data (data breach).
Baca Juga: Bitcoin Tertekan, Ini Dua Skenario Pemulihan
Kondisi ini menunjukkan pasar asuransi siber memasuki fase kompetisi harga yang agresif, meskipun eksposur risiko dan frekuensi serangan terus meningkat. Perusahaan asuransi dinilai berlomba mempertahankan pangsa pasar dengan menawarkan tarif lebih kompetitif dan cakupan lebih luas di tengah tekanan klaim yang meningkat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: