Waspada Kejutan Amerika Serikat (AS), Iran Test Roket hingga Diam-diam Bangun Pertahanan
Kredit Foto: Istimewa
Perkembangan serupa terpantau di Kompleks Isfahan. Ia merupakan salah satu dari tiga fasilitas pengayaan uranium yang tahun lalu dibom Amerika Serikat. Selain fasilitas nuklir, kawasan ini juga memiliki jaringan terowongan bawah tanah yang diduga menyimpan sebagian besar uranium yang telah diperkaya.
Citra satelit terbaru menunjukkan pintu masuk terowongan di lokasi tersebut telah ditimbun tanah, sehingga seluruh akses menuju kompleks bawah tanah dinilai "tertutup sepenuhnya”. Langkah tersebut diduga demi meredam dampak serangan udara dan menyulitkan operasi pasukan khusus yang bertujuan merebut atau menghancurkan uranium yang mungkin disimpan di dalamnya.
Baca Juga: Amerika Serikat (AS) Sentil Ukraina, Ungkit Biaya Perang Lawan Rusia
Selain fasilitas nuklir, aktivitas pemulihan juga terdeteksi dalam sejumlah pangkalan rudal. Pangkalan Rudal Shiraz Selatan merupakan salah satu tempat peluncuran rudal balistik jarak menengah. Di lokasi tersebut terlihat mengalami rekonstruksi dan pembersihan di area logistik dan pusat komando yang sebelumnya rusak.

Adapun Pangkalan Rudal Qom sebelumnya mengalami kerusakan sedang pada struktur di atas permukaan tanah, namun citra terbaru menunjukkan pembangunan atap baru di atas bangunan yang sempat terdampak.
Sebelumnya, Iran dan Amerika Serikat mencapai kesepahaman atas prinsip-prinsip panduan utama dalam pembicaraan yang bertujuan menyelesaikan sengketa nuklir yang telah berlangsung lama. Meski demikian, banyak pihak menilai kesepakatan final belum akan tercapai dalam waktu dekat.

Amerika Serikat sendiri mengatakan bahwa pihaknya telah mencapai kesamaan arah terkait dengan negosiasi nuklir dan menunggu proposal tertulis dari Iran.
Baca Juga: Negosiasi Tak Hasilkan Kesepakatan, Ancaman Perang Iran-Amerika Serikat (AS) Masih Terbuka
Namun Teheran yang diduga tengah memperkuat postur pertahanan militernya berpotensi mengguncang pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa ketegangan di Timur Tengah.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: