Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Ma’ruf Amin: Integrasi Zakat, Wakaf, dan Industri Halal Jadi Kunci Ekonomi Syariah

Ma’ruf Amin: Integrasi Zakat, Wakaf, dan Industri Halal Jadi Kunci Ekonomi Syariah Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ekonomi syariah sebagai kekuatan nasional menjadi sorotan dalam “Sarasehan 99 Ekonom Syariah: Sharia Investment Forum 2026” yang digelar pada Selasa (24/2/2026). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Center for Sharia Economic Development (CSED) INDEF bersama CNBC Indonesia dengan mengangkat tema “Pengarusutamaan Ekonomi Syariah sebagai Pilar Baru Pertumbuhan Ekonomi Nasional”.

Acara yang berlangsung di Auditorium Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, menghadirkan Wakil Presiden Republik Indonesia ke-13, Ma'ruf Amin, sebagai pembicara. Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa ekonomi syariah merupakan kebutuhan mendesak di tengah tantangan global, yang ditandai ketimpangan dan krisis kualitas pertumbuhan.

“Dunia hari ini sudah seharusnya memiliki ekonomi yang berkualitas agar tidak terjadi ketimpangan. Ekonomi syariah hadir bukan hanya menciptakan pertumbuhan atau profit, tetapi juga menghadirkan keberkahan,” ujarnya.

Ma’ruf menjelaskan bahwa tujuan syariah atau maqashid syariah mencakup menjaga agama, keturunan, dan harta. Prinsip tersebut, menurutnya, menjadi fondasi kebijakan publik yang berkeadilan dan berorientasi pada kemaslahatan. Ia menekankan bahwa ekonomi syariah tidak hanya berbicara soal pertumbuhan, tetapi juga distribusi dan keberkahan.

Dalam paparannya, ia mengibaratkan ekonomi syariah seperti pesantren yang memiliki tiga elemen utama, yakni sumber daya manusia seperti santri, ilmu seperti kitab, serta penjaga arah seperti kyai. Menurutnya, kekuatan pesantren bukan terletak pada fasilitas, melainkan pada nilai dan ruh yang dipegang. Ia mengingatkan agar ekonomi syariah tidak berhenti pada simbol atau label semata.

“Jangan sampai yang hadir hanya ekonomi yang berseragam syariah, tetapi kehilangan ruhnya,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya integrasi dalam ekosistem ekonomi syariah. Industri halal, zakat, wakaf, dan keuangan syariah dinilai tidak boleh berjalan sendiri-sendiri, melainkan harus menjadi satu kesatuan dalam sistem ekonomi syariah yang terintegrasi.

Dalam konteks tersebut, peran ekonom syariah dinilai strategis sebagai penjaga arah, perumus kebijakan publik, sekaligus penggerak transformasi. Ia menekankan bahwa konsep tanpa aksi tidak akan membawa perubahan nyata.

Ma’ruf Amin juga menyampaikan optimisme bahwa Indonesia memiliki prasyarat kuat untuk menjadi pusat ekonomi syariah dunia. Dengan populasi Muslim terbesar, potensi filantropi Islam melalui zakat, infak, dan sedekah, serta pertumbuhan industri halal yang terus meningkat, Indonesia dinilai memiliki fondasi yang memadai.

Baca Juga: Perbankan Syariah Dinilai Tak Kompetitif dan Rumit, Purbaya: Ekonomi Syariah Jangan Sekadar Retorika

Namun, ia mengakui kontribusi ekonomi syariah terhadap perekonomian nasional masih perlu ditingkatkan. Menurutnya, ekonomi syariah telah hadir dalam regulasi, tetapi belum sepenuhnya menjadi kesadaran kolektif.

Untuk itu, ia menekankan dua agenda utama, yakni memasyarakatkan ekonomi syariah agar semakin dipahami, serta mensyariahkan praktik ekonomi masyarakat agar sejalan dengan nilai keadilan, amanah, dan kemaslahatan.

“Kalau kita konsisten dalam memasyarakatkan ekonomi syariah, insyaallah pertumbuhan ekonomi syariah akan tumbuh lebih maksimal dan menjadi pilar utama ekonomi negeri ini,” pungkasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait:

Bagikan Artikel: