Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Amerika Serikat menetapkan tarif sementara hingga 143,30 persen terhadap produk panel surya asal Indonesia dalam penyelidikan antisubsidi terbaru. Pemerintah pun menyatakan kesiapan penuh untuk membela industri nasional hingga keputusan final diumumkan.
Kebijakan tersebut diumumkan oleh Departemen Perdagangan AS (United States Department of Commerce/ USDOC) pada Selasa (24/2/2026).
Produk yang menjadi objek adalah crystalline silicone photovoltaic cells, whether or not assembled into modules yang diimpor dari sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Tarif Bea Masuk Imbalan Sementara (BMIS) yang dikenakan kepada Indonesia berada pada kisaran 85,99 persen hingga 143,30 persen. Angka ini berlaku selama proses penyelidikan antisubsidi masih berlangsung.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan pemerintah akan mengawal seluruh tahapan investigasi secara aktif dan terukur. Ia menyebut proses tersebut sepenuhnya berbasis data serta fakta yang dapat diverifikasi.
"Proses ini sepenuhnya berbasis data dan fakta. Pemerintah Indonesia bersikap kooperatif dan transparan agar seluruh tahapan penyelidikan berjalan sesuai ketentuan. Kami akan terus mengawal kepentingan industri nasional hingga keputusan final diumumkan," ujar Budi dikutip dari ANTARA Jumat (27/2/2026).
Keputusan final atas penyelidikan tersebut dijadwalkan terbit pada Juli 2026. Hingga saat itu, pemerintah dan pelaku usaha diminta terus menjaga konsistensi data yang disampaikan kepada otoritas AS.
Secara komparatif, posisi Indonesia dinilai relatif lebih moderat dibanding beberapa negara ASEAN lain yang turut terdampak. Malaysia dikenakan tarif 14 persen hingga 168 persen, Vietnam 68 persen hingga 542 persen, Thailand 99 persen hingga 263 persen, dan Kamboja bahkan melampaui 3.400 persen.
"Perbandingan ini menunjukkan bahwa posisi Indonesia relatif lebih moderat dalam struktur penetapan sementara yang diumumkan otoritas AS," jelas Budi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: