Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Momen Lebaran identik dengan cairnya Tunjangan Hari Raya (THR). Namun bagi banyak orang, euforia tersebut seringkali hanya berlangsung singkat karena saldo rekening kembali menipis setelah periode liburan usai.
Fenomena ini tidak hanya soal pengeluaran musiman, tetapi juga soal bagaimana masyarakat mengelola uang tambahan tersebut. Tanpa strategi yang tepat, dana THR berisiko habis untuk konsumsi jangka pendek tanpa memberikan dampak finansial jangka panjang.
Chief Marketing Officer PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Sergio Ticoalu, mengatakan periode THR seharusnya menjadi momentum untuk mulai berpikir seperti smart money, yaitu menggunakan uang secara lebih strategis, bukan sekadar mengikuti dorongan konsumsi sesaat.
“Momentum THR sebenarnya adalah kesempatan bagus untuk mulai berpikir seperti smart money. Artinya bukan sekadar membelanjakan uang, tapi mengalokasikannya dengan lebih strategis agar sebagian tetap bisa tumbuh dan bekerja untuk masa depan,” ujar Sergio yang dikutip di Jakarta, Rabu (18/3/2026).
Menurutnya, pola pikir ini penting agar dana THR tidak hanya lewat begitu saja di rekening, tetapi dapat menjadi langkah awal membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat.
Baca Juga: Denda 5 Persen Menanti Perusahaan yang Telat Bayar THR, Kemenaker Siap Tindaklanjuti Laporan
IPOT pun membagikan empat strategi sederhana agar dana THR dapat dikelola secara lebih produktif.
1. Prioritaskan “Security” dengan Dana Darurat
Langkah pertama adalah memastikan kondisi finansial tetap aman. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengalokasikan sebagian THR untuk memperkuat dana darurat.
“Minimal 20–30 persen THR bisa dialokasikan sebagai dana cadangan. Ini penting agar kondisi finansial tetap stabil sepanjang tahun,” jelas Sergio. Dengan adanya dana darurat, masyarakat dapat menghadapi kebutuhan tak terduga tanpa harus berutang atau mengganggu rencana keuangan lainnya.
2. Gunakan Sisa THR untuk Investasi dengan Conviction
Setelah kebutuhan Lebaran terpenuhi, sisa THR dapat dimanfaatkan sebagai tambahan modal investasi.
Sergio menekankan pentingnya melakukan investasi dengan dasar analisis dan keyakinan, bukan sekadar mengikuti tren atau FOMO.
“Investor yang sehat adalah mereka yang punya conviction terhadap keputusan investasinya. Jadi bukan sekadar ikut ramai, tapi memahami kenapa mereka memilih instrumen tersebut,” katanya.
3. Bangun Confidence Lewat Literasi Finansial
Mengelola uang dengan baik tidak hanya bergantung pada besar kecilnya pendapatan, tetapi juga pada tingkat literasi finansial. Dengan pemahaman yang baik tentang investasi dan pengelolaan keuangan, seseorang dapat mengambil keputusan yang lebih rasional dan terukur.
“Confidence dalam berinvestasi datang dari pemahaman. Semakin kita mengerti cara kerja pasar dan instrumen investasi, semakin baik pula keputusan yang bisa kita ambil,” tambah Sergio.
Baca Juga: Cara Mengatur THR Agar Keuangan Tetap Aman Setelah Lebaran
4. Parkirkan Dana Produktif di xRDN IPOT
Salah satu cara agar dana tidak cepat habis adalah dengan menempatkannya pada rekening dana nasabah (xRDN) yang tetap memberikan potensi imbal hasil.
Di aplikasi IPOT, saldo yang tersimpan di xRDN tetap dapat memberikan potensi imbal hasil sekitar 2 persen, lebih tinggi dibandingkan bunga tabungan konvensional yang umumnya berada di kisaran 0,02–0,2 persen per tahun, namun tetap memiliki likuiditas tinggi. Dengan cara ini, dana tetap produktif sekaligus membantu mengurangi dorongan belanja impulsif.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: