Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Imbas Perang AS-Iran, Rupiah Diramal Tembus Rp20.400 per dolar AS

Imbas Perang AS-Iran, Rupiah Diramal Tembus Rp20.400 per dolar AS Kredit Foto: Antara/Bayu Pratama S

Menurutnya ini bukan lagi tekanan bertahap, tetapi guncangan. Solusi yang digunakan hanya satu utang. Pemerintah menerbitkan global bond 4,3 miliar dolar AS secara cepat April 2020 untuk menghentikan kepanikan pasar, setelah sebelumnya menerbitkan 4,0 miliar dolar AS pada Januari 2020.

“Tiga episode ini menyampaikan pesan yang sangat jelas: cadangan devisa yang besar tidak menjamin stabilitas rupiah. Yang menentukan rupiah adalah apakah aliran dana eksternal (utang) tetap masuk atau berhenti. Dengan kata lain, stabilitas rupiah tergantung dari apakah Indonesia masih bisa berutang terus,” jelasnya. 

Selanjutnya, kerentanan fundamental Indonesia ini juga terlihat dari tren jangka panjang. Selama satu dekade terakhir, cadangan devisa memang meningkat dari sekitar 100 miliar dolar AS pada awal 2014 menjadi sekitar 150 miliar dolar AS pada akhir Februari 2026. 

Tetapi, pada saat yang sama, rupiah justru melemah dari sekitar Rp12.000 menjadi Rp17.000 per dolar AS. Fakta ini mencerminkan kontradiksi yang perlu diwaspadai, cadangan naik, tetapi rupiah melemah.

Baca Juga: Meski Libur Lebaran, BI Tetap Siaga Stabilkan Rupiah

Ia menyebut, tanda-tanda tekanan terhadap rupiah sudah kembali muncul. Dalam dua bulan pertama 2026 saja, cadangan devisa sudah turun sekitar 4,6 miliar dolar AS, meskipun pemerintah telah menarik utang luar negeri sekitar setara 7,1 miliar dolar AS dalam berbagai mata uang dolar, euro, dan yuan pada Januari dan Februari. 

“Kalau tren aliran dana keluar terus berlanjut, maka ruang stabilisasi akan semakin sempit,” tuturnya. 

Sejarah menunjukkan, kejatuhan rupiah sebesar 25-30 persen pada triwulan ketiga 1997 membuat pemerintah meminta bantuan likuiditas kepada IMF. 

Halaman:

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Cita Auliana
Editor: Fajar Sulaiman