Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Imbas Perang AS-Iran, Rupiah Diramal Tembus Rp20.400 per dolar AS

Imbas Perang AS-Iran, Rupiah Diramal Tembus Rp20.400 per dolar AS Kredit Foto: Antara/Bayu Pratama S
Warta Ekonomi, Jakarta -

Perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran memberikan dampak yang cukup kuat terhadap ekonomi Indonesia, sehingga berpotensi membuat nilai tukar rupiah menembus level Rp20.400 per dolar AS. 

Hal itu disampaikan oleh Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan yang mengatakan ekonomi Indonesia sangat rentan terhadap guncangan eksternal, terutama geopolitik. 

“Data historis menunjukkan, depresiasi rupiah sebesar 15–20 persen bukan skenario ekstrem tetapi sudah terjadi berulang. Dengan posisi rupiah di sekitar Rp17.000 saat ini, pelemahan 20 persen akan membawa nilai tukar ke sekitar Rp20.400 per dolar AS. Angka ini bukan lagi angka spekulatif, tetapi berbasis data historis,” kata Anthony dalam keterangannya, Jakarta, Senin (23/3/2026). 

Konflik Iran bisa menjadi katalis yang berpotensi mempercepat tekanan yang sudah ada. Kenaikan harga minyak, gangguan rantai pasok global, dan pergeseran arus modal dari emerging market ke aset safe haven akan menciptakan tekanan simultan terhadap neraca eksternal Indonesia.

“Dalam kondisi geopolitik yang lebih ekstrem, depresiasi rupiah bahkan dapat melampaui 20 persen. Skenario tersebut dapat terjadi dalam waktu relatif singkat tiga hingga enam bulan ke depan,” tuturnya. 

Baca Juga: Jelang Libur Panjang, Rupiah Ditutup Stagnan di Level Rp16.997

Anthony menyebut kondisi ekonomi nasional saat ini rapuh, meski kondisi cadangan devisa mencapai lebih dari 150 miliar dolar AS.  Menurutnya, cadangan devisa Indonesia besar dalam angka, tetapi terisi gelembung akumulasi utang luar negeri, terutama oleh pemerintah dan Bank Indonesia. 

“Dengan kata lain, utang luar negeri tidak digunakan untuk kegiatan produktif, tetapi untuk memperkuat cadangan devisa dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi,” tuturnya. 

Halaman:

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Cita Auliana
Editor: Fajar Sulaiman