Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Imbas Perang AS-Iran, Rupiah Diramal Tembus Rp20.400 per dolar AS

Imbas Perang AS-Iran, Rupiah Diramal Tembus Rp20.400 per dolar AS Kredit Foto: Antara/Bayu Pratama S

Ia menggambarkan tiga episode tekanan serius terhadap rupiah (stress mode) sejak 2014 hingga 2025. 

Episode pertama terjadi pada September 2014 hingga September 2015. Cadangan devisa turun 9,44 miliar dolar AS, atau sekitar 8,5 persen, sementara rupiah terdepresiasi sekitar 20 persen—dari Rp12.185 menjadi Rp14.650 per dolar AS pada 30 September 2015.

Untuk menahan tekanan pada rupiah tersebut, pemerintah harus menerbitkan obligasi internasional sekitar 6,85 miliar dolar AS, melalui global bond dan Samurai bond. 

“Injeksi utang luar negeri ini memang berhasil meredakan tekanan, membuat rupiah relatif stabil di kurs Rp13.500–Rp14.000 per dolar AS, tetapi jauh lebih tinggi dari periode sebelum stress,” terangnya.  Episode kedua pada Januari hingga Oktober 2018 jauh lebih mngkhawatirkan. Cadangan devisa terkuras lebih dalam, sekitar 17,13 miliar dolar AS, sementara rupiah kembali melemah signifikan, sekitar 13,5 persen dari Rp13.388 menjadi Rp15.202 per dolar AS pada 31 Oktober 2018.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah kewalahan. Fiskal berubah fungsi, mengambil alih kebijakan moneter. 

Untuk menahan tekanan terhadap rupiah, pemerintah harus menerbitkan utang luar negeri dalam skala jauh lebih besar, sekitar 11,4 miliar dolar AS: masing-masing pada Januari 2018 (4 miliar dolar AS global bond), Februari 2018 (3 miliar dolar AS global sukuk), Mei 2018 (125 miliar Japanese yen Samurai bond), Juli 2018 (2 miliar dolar AS global bond), dan Oktober 2018 (1,25 miliar dolar AS global sukuk). 

Baca Juga: Perkuat Stabilitas Rupiah, BI Lakukan Penyesuaian Transaksi Valas

“Artinya, semakin besar tekanan terhadap rupiah, semakin besar pula ketergantungan pada utang luar negeri,” ucapnya.

Episode ketiga, pada awal pandemi COVID-19 bahkan lebih brutal. Dalam waktu hanya satu bulan, cadangan devisa turun sekitar 10,7 miliar dolar AS dan rupiah jatuh sekitar 20 persen, dari Rp13.675 pada 21 Februari 2020 menjadi Rp16.575 per dolar AS pada 23 Maret 2020.

Halaman:

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Cita Auliana
Editor: Fajar Sulaiman