Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Efek Serangan Amerika Serikat, Opsi Bangun Senjata Nuklir Makin Dilirik Iran

Efek Serangan Amerika Serikat, Opsi Bangun Senjata Nuklir Makin Dilirik Iran Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Internal Iran semaki memanas terkait dengan perbedaan pandangan untuk mengembangkan senjata nuklir. Hal ini menyusul konflik negara tersebut dengan Amerika Serikat.

Dikutip dari ReutersIslamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) semakin dominan dalam pengambilan keputusan strategis usai kematian dari Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah kebijakan nuklir dari Teheran.

Baca Juga: Amerika Serikat Pertama Kali Luncurkan Kapal Tanpa Awak, Sangat Diandalkan di Iran

Sejumlah tokoh internal mulai secara terbuka mempertanyakan kebijakan lama yang menolak pengembangan senjata nuklir. Salah satu wacana yang semakin menguat adalah kemungkinan negara tersebut keluar dari Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT).

Media Iran semakin giat untuk menyerukan agar pemerintah segera menarik diri dari perjanjian tersebut, sembari tetap menjalankan program nuklir sipil. Di Tasnim, Politikus Mohammad Javad Larijani mendesak evaluasi ulang keanggotaan Iran di NPT.

“NPT harus ditangguhkan. Kita harus menilai apakah perjanjian ini masih berguna bagi kita,” ujarnya.

Dalam perkembangan terbaru, diskusi mengenai pembangunan bom nuklir yang sebelumnya tabu kini juga mulai muncul secara terbuka. Media lokal menyebut bahwa publik menuntut langkah tegas untuk memiliki senjata nuklir, baik dengan membangun sendiri atau mendapatkannya.

Kebijakan nuklir sebelumnya sangat dipengaruhi oleh fatwa dari Khamenei. Ia disebut telah menyatakan senjata nuklir haram dalam Islam. Namun, fatwa tersebut tidak pernah ditulis secara resmi dan kini statusnya dipertanyakan setelah kematiannya.

Pemimpin Tertinggi Iran Baru, Mojtaba Khamenei juga belum memberikan kepastian atas hal tersebut karena ia sendiri belum muncul ke publik sejak kematian ayahnya. Dengan hal tersebut, belum ada keputusan resmi dari untuk mengubah doktrin nuklir dari Iran.

Perdebatan Iran terkait nuklir kini memasuki fase baru yang lebih terbuka dan agresif. Kombinasi tekanan militer, perubahan kepemimpinan dan dinamika internal membuat arah kebijakan negara itu sulit diprediksi.

Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadapnya yang terjadi di tengah negosiasi nuklir disebut telah mengubah kalkulasi strategis Teheran. Iran kini diproyeksi melihat semakin sedikit keuntungan dari tetap mematuhi pembatasan nuklir internasional.

Terbaru, Amerika Serikat mengirimkan proposal damai yang berisi lima belas poin yang menekankan pentingnya penghentian pengembangan teknologi nuklir oleh Iran.

Washington ingin negara tersebut untuk menghancurkan stok uranium yang diperkaya tinggi dan menghentikan program pengayaan uranium. Iran juga diminta untuk membatasi program rudal balistik dan menghentikan dukungan mereka terhadap sekutu regional di Timur Tengah.

Amerika Serikat juga memperingatkan bahwa jika proposal tersebut tidak diterima, maka pihaknya akan memberikan tekanan militer yang lebih berat ke Iran. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa meskipun ada jeda sementara, risiko eskalasi tetap tinggi apabila negosiasi gagal.

Baca Juga: 10 Hari Diberikan, Amerika Serikat Janji Stop Hancurkan Fasilitas Iran

Jika Iran benar-benar keluar dari dari perjanjian atau mulai mengembangkan senjata nuklir, ketegangan global berpotensi meningkat drastis. Bagi dunia, eskalasi ini dapat berdampak pada stabilitas global, harga energi, serta kondisi pasar keuangan, termasuk kripto dan saham.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar