Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

China Tuduh Filipina Lakukan Manuver Berbahaya di Laut China Selatan

China Tuduh Filipina Lakukan Manuver Berbahaya di Laut China Selatan Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Hubungan China dan Filipina kembali panas. Beijing menuduh tetangganya itu melakukan manuver berbahaya dalam kawasan dari Laut China Selatan. Hal ini menambah ketegangan antara kedua negara di Asia.

Juru Bicara Komando Teater Selatan Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA), Zhai Shichen mendesak agar manuver berbahaya dan provokatif untuk segera dihentikan oleh Filipina. Ia merujuk pada insiden yang terjadi pada baru-baru ini di Zhubi Jiao, Laut China Selatan.

Baca Juga: Amerika Serikat Bilang China Diam-diam Kirim Alat Pembuat Chip ke Iran

Menurut China, kapal perang mereka sedang melakukan patroli rutin dalam wilayah tersebut ketika mendeteksi kehadiran kapal dari Filipina. Pihaknya menyebut telah mengirimkan peringatan melalui radio kepada kapal terkait. Namun, Manila dituduh mengabaikan peringatan tersebut dan justru melakukan manuver yang dianggap berisiko.

China mengklaim kapal negara tetangganya itu mengubah arah secara tiba-tiba dan mendekati kapalnya secara berbahaya, sehingga berpotensi menyebabkan kecelakaan di laut. Beijing juga membantah bahwa pihaknya melakukan pendekatan berbahaya.

Shichen mendesak agar negara terkait untuk mengendalikan operasi militer laut dan udara serta menghentikan kampanye propaganda terkait Laut China Selatan. Pihaknya juga menyatakan tetap dalam kondisi siaga tinggi dan siap mempertahankan kedaulatan wilayahnya.

Insiden terbaru ini menambah daftar panjang ketegangan di Laut China Selatan. Ia merupakan kawasan yang menjadi sengketa antara beberapa negara di Asia Tenggara dan China. 

Laut Cina Selatan menjadi pertebutan karena ia merupakan jalur penting untuk perdagangan global. Setiap tahunnya, jalur pelayaran yang melalui wilayah tersebut diperkirakan bernilai US$3,36 triliun. China juga menggunakan jalur tersebut sebagai jalur utama perdagangan energi.

Adapun negara-negara pengklaim berkepentingan untuk mempertahankan atau memperoleh hak atas stok ikan, eksplorasi dan potensi eksploitasi minyak mentah dan gas alam dalam dasar laut daru Laut Cina Selatan. Keamanan maritim juga menjadi masalah, karena perselisihan yang sedang berlangsung menghadirkan tantangan bagi pelayaran.

Sebelumnya China juga menyampaikan kritik terkait rencana pembangunan jalur produksi amunisi baru di Filipina. Mereka protes terkait dengan kerja sama yang dilakukan oleh Manila dan Amerika Serikat.

Rencana pembangunan fasilitas produksi amunisi dinilai sebagai bagian dari upaya penguatan kehadiran militer dari Amerika Serikat di Asia-Pasifik. Menurut Beijing, Washington dan sekutunya untuk harus menghormati aspirasi negara-negara dalam kawasan dan berkontribusi pada perdamaian, bukan justru memicu konfrontasi.

Adapun Filipina dan Prancis baru-baru ini resmi menandatangani perjanjian militer yang memungkinkan kedua negara menggelar latihan bersama dalam wilayah masing-masing. Hal ini terjadi saat negara tersebut bersitegang dengan China di Laut China Selatan (LCS).

Baca Juga: Filipina dan Prancis Teken Perjanjian Militer, Respons Ancaman China

Filipina menyatakan bahwa perjanjian ini akan memperkuat kerja sama bilateral dan memberikan perlindungan hukum bagi aktivitas bersama antara angkatan bersenjata kedua negara. Kesepakatan tersebut juga membuka peluang peningkatan interoperabilitas militer.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar