Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Iran Sebut AS-Israel Salah Hitung, Konflik Berubah Jadi Perang Berkepanjangan

Iran Sebut AS-Israel Salah Hitung, Konflik Berubah Jadi Perang Berkepanjangan Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pernyataan keras datang dari perwakilan Iran terkait eskalasi konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah. Teheran menilai serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel justru memperlihatkan kesalahan besar dalam perhitungan strategi militer.

Duta Besar Iran untuk Turkmenistan Ali Mojtaba Roozbahani menyebut agresi yang terjadi dalam sebulan terakhir gagal mencapai tujuan utamanya. Menurutnya, serangan tersebut tidak mampu melemahkan Iran seperti yang diperkirakan sebelumnya.

“Sudah sebulan berlalu sejak dimulainya serangan militer berskala besar dan tindakan agresi ilegal terhadap kedaulatan wilayah Iran. Dalam periode ini, ketahanan rakyat Iran telah terlihat jelas di mata dunia, sekaligus menunjukkan perlunya peninjauan kembali keseimbangan kekuatan di kawasan,” ujarnya dikutip dari TASS.

Ia menilai pihak penyerang keliru dalam membaca situasi di lapangan. Serangan besar yang diharapkan dapat mematahkan perlawanan justru tidak membuahkan hasil seperti yang direncanakan.

“Berdasarkan penilaian di lapangan, pihak penyerang telah salah memperhitungkan strategi mereka. Mereka mengira serangan besar akan mematahkan tekad Iran, tetapi gagal memperhitungkan ketahanan infrastruktur serta keteguhan rakyatnya,” katanya.

Menurut Roozbahani, kondisi tersebut justru mengubah arah konflik. Situasi yang terjadi saat ini dinilai lebih mengarah pada perang berkepanjangan yang menguras kekuatan kedua pihak.

“Perlawanan ini membuat konflik berubah menjadi perang berkepanjangan yang menguras kekuatan, sekaligus membuka kelemahan pihak penyerang,” lanjutnya.

Selain aspek militer, Iran juga menyoroti dampak kemanusiaan dari serangan tersebut. Tuduhan pelanggaran terhadap target sipil menjadi bagian dari kritik yang disampaikan.

“Penargetan terhadap fasilitas sipil, termasuk Sekolah Shajareh Tayyebeh yang menewaskan siswa, perempuan, tenaga kesehatan, dan tim penyelamat, telah melampaui batas moral dan kemanusiaan,” tegasnya.

Konflik ini sendiri bermula sejak akhir Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran. Sejumlah kota besar, termasuk Teheran, menjadi sasaran serangan.

Sebagai respons, Islamic Revolutionary Guard Corps melancarkan serangan balasan ke berbagai target. Eskalasi kemudian meluas ke sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: Hasil Survei Warga AS Mayoritas Menolak Perang terhadap Iran

Serangan dilaporkan menyasar wilayah di Bahrain, Yordania, Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, hingga Arab Saudi. Perkembangan ini menandai bahwa konflik tidak lagi terbatas pada dua negara, tetapi telah melebar secara regional.

Dengan situasi yang terus memanas, perbedaan narasi antara pihak-pihak yang terlibat semakin tajam. Iran menegaskan bahwa ketahanan domestik menjadi kunci utama dalam menghadapi tekanan militer yang terus berlanjut.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait:

Advertisement