Kredit Foto: Merdeka Battery
Presiden Direktur MBMA Teddy Oetomo menyatakan, fondasi sumber daya yang semakin solid menempatkan perseroan pada posisi yang lebih kuat untuk pertumbuhan jangka panjang.
“Peningkatan cadangan ini menunjukkan kekuatan aset kami dan konsistensi eksekusi di lapangan."
"Dengan fondasi sumber daya yang semakin solid, kami berada pada posisi yang lebih kuat untuk menjaga keberlanjutan operasi dan menciptakan nilai jangka panjang,” ujar Teddy dalam keterangan resmi, Selasa (7/4/2026).
Lonjakan cadangan dan target produksi yang masif ini akan menjadi tulang punggung bagi operasional hilir MBMA.
Pasokan bijih dari Tambang SCM dipastikan akan mendukung keberlanjutan smelter Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF), dan fasilitas pengolahan High Pressure Acid Leach (HPAL) yang memproduksi bahan baku baterai kendaraan listrik (EV).
Secara total, sumber daya mineral (mineral resources) di Tambang SCM diperkirakan mencapai 11,8 juta ton kandungan nikel.
Baca Juga: Pengamat Energi UGM Nilai Rencana Kenaikan HMA Nikel Perkuat Posisi Penambang
Angka ini mengukuhkan Tambang SCM sebagai salah satu deposit nikel laterit terbesar di dunia yang berlokasi di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.
Dengan target produksi 35 juta ton di tahun 2026, MBMA berupaya memperkuat integrasi di sepanjang rantai nilai baterai kendaraan listrik global, sekaligus meningkatkan fleksibilitas operasional dan efisiensi jangka panjang, demi mendukung transisi energi bersih. (*)
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus
Tag Terkait:
Advertisement