Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Kredit Perbankan Tumbuh 9,49%, BI Soroti Dana Menganggur Rp2.527 T

Kredit Perbankan Tumbuh 9,49%, BI Soroti Dana Menganggur Rp2.527 T Kredit Foto: Wafiyyah Amalyris K
Warta Ekonomi, Jakarta -

Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan kredit perbankan meningkat menjadi 9,49% secara tahunan (year on year/yoy) pada Maret 2026, lebih tinggi dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 9,37% (yoy). Kenaikan tersebut ditopang oleh pertumbuhan kredit investasi, modal kerja, dan konsumsi di tengah likuiditas perbankan yang dinilai masih memadai.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan penguatan pertumbuhan kredit terus didorong untuk menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

“Kredit perbankan pada Maret 2026 tumbuh sebesar 9,49% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Februari 2026 sebesar 9,37% (yoy),” kata Perry dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Berdasarkan kelompok penggunaan, pertumbuhan kredit didorong oleh kredit investasi yang tumbuh 20,85% (yoy), kredit modal kerja 4,38% (yoy), dan kredit konsumsi 5,88% (yoy).

Meski demikian, BI menilai pemanfaatan pembiayaan perbankan masih dapat dioptimalkan. Hal ini tercermin dari besarnya fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) yang mencapai Rp2.527,46 triliun atau setara 22,59% dari total plafon kredit tersedia.

Dari sisi pendanaan, kapasitas pembiayaan perbankan dinilai tetap kuat. Likuiditas perbankan tercermin dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 27,85%, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 13,55% (yoy) pada Maret 2026.

Selain itu, minat bank dalam menyalurkan kredit disebut masih terjaga. BI mencatat persyaratan pemberian kredit (lending requirement) masih relatif longgar, meskipun terdapat pengetatan pada segmen kredit konsumsi dan UMKM akibat tingginya risiko kredit pada kedua sektor tersebut.

Ke depan, BI berencana memperkuat kapasitas pendanaan perbankan, termasuk melalui pengembangan instrumen nontraditional funding atau sumber pendanaan non-DPK untuk mendukung ekspansi kredit.

Baca Juga: OJK Revisi RBB, Purbaya Dorong Perbankan Lebih Agresif Salurkan Kredit

Baca Juga: OJK Catat Kredit Perbankan Tumbuh 9,37% per Februari 2026

Baca Juga: Risiko Global Naik, Perbankan Nasional Perketat Stress Test dan Likuiditas

Di sisi lain, Perry menilai ketahanan industri perbankan masih kuat di tengah risiko global, termasuk dampak konflik Timur Tengah. Kondisi tersebut ditopang oleh likuiditas yang memadai, permodalan yang kuat, serta rasio kredit bermasalah yang tetap rendah.

Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan pada Februari 2026 tercatat sebesar 25,83%. Sementara rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) berada di level 2,17% secara bruto dan 0,83% secara neto.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Cita Auliana
Editor: Annisa Nurfitri

Advertisement