Asia Timur Panas, Taiwan Gelar Latihan Militer di Laut China Selatan
Kredit Foto: AP Photo/Chiang Ying-ying
Taiwan menggelar latihan keamanan dalam pulau yang dikuasainya di Laut China Selatan. Hal ini berpotensi menambah ketegangan yang terjadi dalam wilayah dari Asia Timur.
Menteri Dewan Urusan Kelautan Taiwan, Kuan Bi-ling baru-baru ini turun mengunjungi Pulau Taiping. Ia datang untuk memantau langsung latihan tersebut. Kunjungannya ini sendiri terbilang langka mengingat wilayah tersebut adalah salah satu wilayah sengketa di Laut China Selatan.
Baca Juga: Amerika Serikat: China Dalangi Isu Pencabutan Izin Terbang Pesawat Kepresidenan Taiwan
Latihan yang dilakukan mencakup berbagai skenario, termasuk operasi penyergapan kapal mencurigakan yang menolak merespons panggilan. Dalam simulasi tersebut, pasukan khusus penjaga pantai bersenjata menaiki kapal kargo untuk melakukan pemeriksaan.
"Anda telah memasuki perairan di bawah yurisdiksi negara kami. Harap bekerja sama dengan penyelidikan," ujar salah satu anggota tim dalam latihan yang dilakukan oleh Taiwan.
Otoritas Taiwan menyatakan latihan tersebut mencakup skenario bantuan kemanusiaan, evakuasi medis, dan penanganan pencemaran laut. Namun, latihan bersenjata menunjukkan kesiapan menghadapi potensi ancaman keamanan di kawasan.
Kunjungan Kuan sendiri dalam tujuj tahun terakhir merupakan kunjungan pertama seorang menteri ke Pulau Taiping. Pulau tersebut berada di Kepulauan Spratly. Ia menjadi wilayah sengketa karena ikut diklaim oleh China, Vietnam dan Filipina.
Pulau Taiping memiliki landasan pacu yang mampu menampung pesawat militer serta dermaga baru yang dapat menampung kapal patroli hingga 4.000 ton. Meski demikian, pertahanannya relatif lebih ringan dibandingkan pulau-pulau yang dikuasai oleh China.
Pemerintah Taiwan menegaskan akan terus menjaga kedaulatan wilayahnya di tengah meningkatnya aktivitas militer dari China. Latihan ini menjadi sinyal kesiapannya dalam menghadapi dinamika keamanan regional.
Adapun China diketahui telah membangun fasilitas militer besar di sejumlah pulau buatan di Laut China Selatan. Hal tersebut memicu kekhawatiran global karena kawasan ini juga diklaim sebagian oleh Brunei, Malaysia, Filipina dan Vietnam.
Laut Cina Selatan menjadi pertebutan karena ia merupakan jalur penting untuk perdagangan global. Setiap tahunnya, jalur pelayaran yang melalui wilayah tersebut diperkirakan bernilai US$3,36 triliun. China juga menggunakan jalur tersebut sebagai jalur utama perdagangan energi.
Adapun negara-negara pengklaim berkepentingan untuk mempertahankan atau memperoleh hak atas stok ikan, eksplorasi dan potensi eksploitasi minyak mentah dan gas alam dalam dasar laut daru Laut Cina Selatan. Keamanan maritim juga menjadi masalah, karena perselisihan yang sedang berlangsung menghadirkan tantangan bagi pelayaran.
Baca Juga: Dibayangi China, Sekutu Amerika Serikat Dituntut Bayar Lebih Mahal Demi Impor Mineral Kritis
Laut China Selatan menjadi rebutan karena ia merupakan jalur perdagangan strategis dengan nilai transaksi miliaran dolar setiap tahun serta sumber daya perikanan dan energi yang besar. Ketegangan di kawasan ini terus menjadi perhatian internasional.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: