Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pendiri ICCSC Sri Hartati Rahayu Resmi jadi Dekan SLIS di Prasmul, Bawa Semangat Pendidikan Hukum Berbasis Global dan Sustainability

Pendiri ICCSC Sri Hartati Rahayu Resmi jadi Dekan SLIS di Prasmul, Bawa Semangat Pendidikan Hukum Berbasis Global dan Sustainability Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Universitas Prasetiya Mulya resmi mengangkat Sri Hartati Rahayu sebagai Dekan School of Law and International Studies (SLIS). Penunjukan ini menjadi langkah strategis kampus dalam memperkuat pendidikan hukum yang terhubung dengan dinamika global, isu keberlanjutan, serta perkembangan teknologi digital.

Sri Hartati Rahayu, yang akrab disapa Ayu, memiliki pengalaman panjang di bidang hukum internasional dan bisnis. Ia meraih gelar doktor dari London School of Economics and Political Science serta dikenal aktif sebagai praktisi hukum lintas negara.

Selain itu, Ayu juga terlibat dalam isu keberlanjutan sebagai pendiri dan bendahara Indonesia Carbon Capture and Storage Center (ICCSC), yang fokus pada solusi penangkapan dan penyimpanan karbon.

Pengangkatan ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan lulusan hukum yang mampu memahami kompleksitas isu global, mulai dari transisi energi, perubahan iklim, hingga disrupsi teknologi digital dan kecerdasan artifisial (AI).

Ayu menegaskan, SLIS akan diarahkan menjadi pusat pembelajaran hukum dan studi internasional yang relevan dengan tantangan masa depan.

“Kami ingin membawa SLIS menjadi ruang belajar yang melahirkan pemimpin hukum dengan perspektif global dan sensitif terhadap isu keberlanjutan. Lulusan tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga mampu berkontribusi dalam menjawab persoalan nyata dunia,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya adaptasi pendidikan hukum terhadap perkembangan teknologi.

“SLIS tidak hanya akan membentuk lulusan hukum yang humanis, tetapi juga agile dan adaptif terhadap laju perkembangan teknologi digital dan AI. Hukum tidak boleh tertinggal justru harus hadir sebagai kerangka yang mampu mengarahkan, mengawal, dan memastikan pemanfaatan teknologi berjalan secara etis, adil, dan bertanggung jawab," tuturnya.

Menurutnya, hukum memiliki peran penting dalam menjembatani inovasi dan kepentingan publik di era digital.

Baca Juga: Purbaya Sebut S&P Pertahankan Rating Kredit Indonesia, IHSG Terus Menghijau!

“Di tengah pesatnya perkembangan AI dan teknologi digital, hukum harus mampu menjadi enabler sekaligus safeguard mendorong inovasi, namun tetap melindungi kepentingan masyarakat. Di sinilah pentingnya membekali mahasiswa dengan perspektif lintas disiplin yang kuat," kata dia.

Ke depan, penguatan kolaborasi lintas sektor juga akan menjadi fokus utama SLIS. Ayu menyatakan pihaknya akan memperluas kemitraan dengan institusi internasional, industri, dan organisasi global agar mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam praktik hukum di tingkat global.

Sebagai dekan, ia akan mendorong pengembangan kurikulum dan riset yang berfokus pada hukum internasional, bisnis global, keberlanjutan, serta isu hukum di era digital. Langkah ini sekaligus mempertegas posisi SLIS dalam ekosistem pendidikan multidisiplin di Universitas Prasetiya Mulya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat