Kredit Foto: Istimewa
BMKG juga memproyeksikan musim kemarau datang lebih awal, dengan puncak kekeringan diperkirakan berlangsung pada Juni hingga September. Sejumlah wilayah bahkan mulai memasuki fase kering.
Mengantisipasi periode tersebut, Ditjen SDA Kementerian PUPR telah menyiapkan langkah antisipatif berbasis koordinasi lintas kementerian, khususnya untuk periode kritis Juli hingga September.
“Melalui koordinasi lintas kementerian, kami menyiapkan langkah antisipatif untuk menghadapi potensi kekeringan, khususnya pada periode kritis pertengahan tahun,” ujarnya.
Sementara itu, dari sisi sarana produksi, Ditjen PSP Kementerian Pertanian menyoroti pentingnya optimalisasi alat dan mesin pertanian (alsintan) yang telah tersedia di berbagai daerah.
“Secara umum ketersediaan prasarana dan alsintan cukup, namun pemanfaatannya harus dioptimalkan. Masih banyak yang belum digunakan secara maksimal di tingkat daerah,” katanya.
Ia menegaskan bahwa alsintan merupakan aset negara yang harus dimanfaatkan bersama. “Ini bukan milik satu kelompok, tetapi milik negara. Harus digunakan bersama untuk mendorong peningkatan produksi,” katanya.
Di sisi lain, Dirjen Lahan dan Irigasi Pertanian (LIP) Hermanto menekankan bahwa strategi pemerintah tidak hanya berfokus pada mitigasi, tetapi juga peningkatan produksi sebagai bagian dari target swasembada pangan.
“Kita tidak hanya bicara mitigasi, tetapi bagaimana tetap memproduksi di tengah potensi kemarau panjang,” ujarnya.
Melalui program strategis, pemerintah menargetkan optimalisasi lahan hingga 300 ribu hektare, khususnya pada lahan dengan indeks pertanaman rendah. Selain itu, program cetak sawah baru ditargetkan mencapai 150 ribu hektare pada 2026, dengan memastikan kesiapan lahan dan ketersediaan air.
Baca Juga: Food Handler Kompeten, Kunci Keamanan Pangan dan Daya Saing Wisata
Baca Juga: Zulhas Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
Penguatan infrastruktur air juga terus dilakukan melalui pengembangan irigasi perpompaan, irigasi perpipaan, pembangunan embung, serta dam parit guna menjaga distribusi air ke lahan pertanian.
Untuk mempercepat realisasi di lapangan, seluruh proses verifikasi dan pemberkasan ditargetkan rampung pada akhir April, sehingga konstruksi dapat dimulai pada awal Mei.
“Kami dorong percepatan verifikasi agar seluruh program bisa segera direalisasikan di lapangan,” jelasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri