Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Impor 150 Juta Barel Minyak Rusia, RI Matangkan Jalur Pelayaran dan Skema Penugasan

Impor 150 Juta Barel Minyak Rusia, RI Matangkan Jalur Pelayaran dan Skema Penugasan Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan

Kholid menjabarkan bahwa sanksi AS dapat membawa konsekuensi hukum serius terhadap struktur pembiayaan Pertamina, terutama pada klausul global bond perusahaan.

"Beberapa klausul dalam global bond yang dirilis Pertamina melarang berhubungan dengan negara yang terkena sanksi. Jika impor dilakukan Pertamina, risiko default perlu diantisipasi," tegas Kholid.

Selain ancaman pada surat utang, muncul kekhawatiran terkait secondary sanctions yang bisa melumpuhkan logistik global berdasarkan Agreement on Reciprocal Trade (ART). Namun secara teknis, minyak jenis Urals maupun ESPO asal Rusia dinilai sangat kompatibel dengan kilang Indonesia.

“Minyak jenis Urals biasanya dijual diskon, tetapi perlu blending dan penyesuaian konfigurasi kilang. Dengan kalkulasi harga minyak yang tinggi, ini tetap feasible secara keekonomian," jelasnya.

Kedaulatan Ekonomi dan Harga BBM

Di sisi lain, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan manifestasi dari kedaulatan ekonomi nasional. Dengan konsumsi BBM nasional mencapai 1,6 juta bpd sementara lifting domestik hanya 600-610 ribu bpd, Indonesia dituntut proaktif.

"Pemerintah Indonesia selalu mengedepankan politik bebas aktif, dan dalam politik bebas aktif itu juga ada ekonomi bebas aktif," tegas Bahlil usai menghadap Presiden di Istana Kenegaraan, Jakarta, Kamis (16/4/2026).

Bahlil mengungkapkan kesepakatan dengan Rusia kini memasuki tahap final, mencakup pasokan minyak mentah hingga LPG. Rusia bahkan berminat berinvestasi pada infrastruktur storage dan kilang.

Baca Juga: Harga BBM Non-Subsidi Tembus Rp25 Ribu, Nelayan Menjerit!

Baca Juga: ESDM Godok Payung Hukum Impor Minyak Rusia

"Kebutuhan crude kita setiap tahun itu kurang lebih sekitar 300 juta barel. Jadi semuanya kita ambil, mana yang menguntungkan untuk negara kita, harus kita lakukan," tandas Bahlil.

Sebagai penutup, Bahlil menjamin bahwa diversifikasi pasokan ini akan memperkuat ketahanan energi domestik tanpa membebani masyarakat.

"Insyaallah stok kita di atas standar minimum. Dan sekali lagi saya katakan bahwa kami sudah bersepakat atas arahan Bapak Presiden bahwa harga BBM untuk subsidi tidak akan dinaikkan sampai dengan akhir tahun," pungkasnya.

Halaman:

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Belinda Safitri