- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Batu Bara jadi DME Segera Groundbreaking, INDEF Wanti-wanti Jangan Sampai BUMN Jadi Korban
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Sebelumnya, Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, membocorkan bahwa momentum dimulainya proyek ini tinggal menghitung waktu. Ia menargetkan pengumuman resmi groundbreaking dilakukan sebelum memasuki kuartal kedua tahun ini.
"Insyaallah mudah-mudahan yang DME akan segera kita announce dalam satu dua bulan ini mengenai ground breaking untuk DME di Bukit Asam, terima kasih," kata Dony.
Dony menekankan bahwa pemerintah kali ini bertindak sangat hati-hati dan tidak gegabah. Fokus utama saat ini adalah memastikan teknologi yang digunakan benar-benar efisien untuk mendongkrak nilai keekonomian proyek. Hal ini berkaitan langsung dengan daya serap pasar (offtaker) yang hanya bisa terjaga jika harga DME kompetitif dibanding LPG.
''Tentunya teknologi yang akan kita pakai akan menentukan output-nya juga kompetitif kita tidak mau nanti output gas-nya itu tidak kompetitif yang akhirnya tidak diserap oleh pasar," tegas Dony.
Catatan Kritis INDEF: Dari Distribusi Hingga Beban BUMN
Di tengah optimisme pemerintah, Head of Center of Industry, Trade, and Investment INDEF, Andry Satrio Nugroho, memberikan catatan kritis yang sangat mendalam. Ia menjabarkan rentetan hambatan yang berpotensi menjegal kesuksesan proyek jika tidak dimitigasi sejak dini.
Hambatan pertama yang disoroti Andry adalah masalah distribusi. Lokasi produksi di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, dinilai memiliki tantangan logistik yang besar untuk menjangkau pasar utama.
"Karena paling banyak yang mengonsumsi rumah tangga di Jawa LPG, sudah pasti itu," kata Andry kepada Warta Ekonomi dikutip Selasa (28/4/2026).
Kedua, Andry menyoroti sisi permintaan (demand) yang berkaitan dengan aspek teknis di masyarakat. Ia mempertanyakan kesiapan transisi perangkat masak dari LPG ke DME.
"Lalu yang kedua adalah terkait dengan sisi demand-nya. Kompor DME dengan kompor LPG berbeda. Siapa yang harus menanggung itu? Untuk transisi kita. Jadi apakah ada insentif lain yang diberikan oleh pemerintah untuk mengganti kompor saya sebutnya. Jadi ya DME ini kan dari sisi technical memang cukup challenging gitu ya," jelasnya.
Baca Juga: INDEF Nilai Pengalihan Insentif Mobil Listrik Timbulkan Ketidakpastian dan Hambat Investasi
Andry menambahkan, meski batu bara kualitas rendah (low rank coal) memang perlu dihilirisasi untuk mendapatkan nilai tambah, pemerintah harus tetap realistis mengenai daya beli masyarakat.
"Tapi kita juga harus berpikir terkait dengan apakah masyarakat itu bisa membeli, apakah harganya bisa dijangkau oleh mereka, apakah bisa bersaing dengan LPG pada hari ini. Untuk hari ini mungkin bisa bersaing. Tapi kalau kondisi geopolitik dan juga harga minyaknya turun apakah tetap bersaing? Nah itu pertanyaan lain ke depan. Saya rasa ini perlu dipikirkan kembali. Kalau dari sisi market-nya ada di wilayah sekitar hilirisasi saya rasa tidak ada masalah," urainya panjang lebar.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Fajar Sulaiman