- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Hilirisasi Batu Bara: Mengintip Peluang DME Menekan Impor LPG ala Benchmark Dunia
Kredit Foto: Istimewa
Di tengah upaya Pemerintah Indonesia memperbaiki postur neraca dagang dengan menekan impor LPG yang telah menembus angka 7 juta ton per tahun, penggunaan Dimethyl Ether (DME) kembali mencuat sebagai solusi strategis.
Berdasarkan sintesis data dari laporan pasar global seperti Fortune Business Insights dan Grand View Research, keberhasilan sejumlah negara dalam mengimplementasikan DME membuktikan bahwa hilirisasi batu bara adalah instrumenkrusial bagi penyelamatan devisa.
Efisiensi Fiskal India
India menjadi salah satu fokus utama dalam peta jalan energi global. Mengutip laporan dari The Economic Times dan Business Standard, pemerintah India melalui Bureau of Indian Standards (BIS) telah meresmikan standar teknis yang mengizinkan pencampuran (blending) DME ke dalam LPG hingga 20% untuk periode 2024—2026.
Langkah ini diproyeksikan memberikan dampak fiskal yang masif. Data dari NDTV Profit menunjukkan bahwa dengan substitusi tersebut, India berpotensi memangkas impor LPG hingga 6,3 juta ton per tahun. Secara makro, kebijakan ini diproyeksikan menyelamatkan devisa negara hingga US$4 miliar atau setara Rp64 triliun per tahun.
Selain itu, laporan dari The Hindu menyoroti peran Council of Scientific and Industrial Research–National Chemical Laboratory (CSIR-NCL) yang sukses mengembangkan teknologi katalis lokal untuk memproduksi DME secara desentralisasi melalui pabrik skala menengah.
Baca Juga: Batu Bara jadi DME Segera Groundbreaking, INDEF Wanti-wanti Jangan Sampai BUMN Jadi Korban
Dominasi dan Skala Ekonomi Cina
Cina tetap menjadi pemimpin pasar dengan penguasaan lebih dari 85% konsumsi DME global. Berdasarkan laporan Dataintelo (2025/2026), kunci keberhasilan Beijing adalah integrasi hulu ke hilir yang matang. Cina memanfaatkan surplus pasokan batu bara di wilayah pedalaman untuk dikonversi menjadi energi cair yang bersih.
Analisis dari Polaris Market Research menggarisbawahi keunggulan strategi Cina dalam menerapkan seamless adoption. Dengan tingkat pencampuran hingga 20%, konsumen rumah tangga dan UMKM tidak perlu melakukan modifikasi infrastruktur. Distribusi dilakukan sepenuhnya menumpang pada rantai pasok LPG eksisting, sebuah model yang dinilai paling efisien bagi negara dengan geografi luas.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: