Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Konflik Timur Tengah Bikin Premi Asuransi Kapal Melonjak Gila-gilaan

Konflik Timur Tengah Bikin Premi Asuransi Kapal Melonjak Gila-gilaan Kredit Foto: Azka Elfriza
Warta Ekonomi, Jakarta -

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum IndonesiaCipto Hartono, menyatakan konflik di Timur Tengah tidak berdampak langsung terhadap mayoritas premi asuransi di Indonesia. Namun, gejolak geopolitik tersebut memicu tekanan tidak langsung melalui kenaikan biaya logistik dan inflasi harga barang impor, terutama pada sektor asuransi marine.

Menurut Cipto, sebagian lini asuransi telah memiliki pengaturan tarif melalui regulasi sehingga tidak mudah terpengaruh langsung oleh dinamika geopolitik global.

“Pertama, kami tidak melihat konflik di Timur Tengah berdampak langsung terhadap mayoritas premi asuransi. Beberapa lini asuransi yang penting sudah dijaga melalui regulasi tarif,” ujarnya usai Seminar Nasional “Antisipasi Dampak Perang AS dan Israel vs Iran terhadap Stabilitas Pertumbuhan Industri Perasuransian” di Jakarta, Rabu (29/4/2026).

Meski demikian, konflik di kawasan strategis jalur perdagangan global tetap memengaruhi industri melalui terganggunya distribusi logistik internasional. Akibatnya, pengiriman barang harus memutar mencari jalur alternatif sehingga biaya logistik dan harga komponen impor ikut meningkat.

Kondisi tersebut berdampak pada kenaikan nilai klaim asuransi, termasuk untuk alat kesehatan dan suku cadang kendaraan yang masih bergantung pada impor.

“Kalau biayanya meningkat, akhirnya inflasi klaim kami juga meningkat. Dampaknya nanti ke rasio klaim, tetapi pada titik ini lebih kepada inflasi harga suku cadang,” jelasnya.

Baca Juga: Konflik Global Bikin Premi Asuransi Diam-Diam Makin Mahal

Baca Juga: Konflik Selat Hormuz Berkepanjangan, Industri Asuransi Dibayangi Lonjakan Klaim?

Baca Juga: Geopolitik Memanas, Industri Asuransi Kelautan Kena Imbas

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat turut menambah tekanan bagi industri asuransi. Kenaikan kurs dinilai memicu inflasi di sejumlah sektor, terutama kesehatan, yang masih bergantung pada barang impor berbasis dolar AS.

“Kalau bicara impor barang, mayoritas masih menggunakan dolar AS. Ketika kurs naik ke Rp17 ribuan dari sebelumnya Rp15 ribu hingga Rp16 ribu, tentu ada peningkatan biaya yang cukup besar,” ujarnya.

Di sisi lain, Cipto menilai dampak paling besar dirasakan sektor asuransi marine, khususnya marine hull dan marine cargo, yang sangat bergantung pada jalur pelayaran global.

Akibat konflik di wilayah strategis tersebut, risiko pelayaran meningkat tajam karena banyak perusahaan global tidak lagi bersedia menanggung risiko perang (war risk).

Marine hull dan marine cargo sangat bergantung pada jalur pengiriman yang terdampak konflik, sehingga pasti terkena imbasnya,” katanya.

Penolakan perlindungan war risk membuat banyak kapal memilih tidak beroperasi karena nilai aset kapal sangat besar sementara perlindungan asuransi terbatas. Kondisi itu berpotensi menghambat distribusi barang dan mengganggu rantai pasok global.

“Kalau perlindungan asuransinya tidak ada, kapal tidak berani beroperasi karena nilai satu kapal bisa mencapai ratusan miliar rupiah,” ujarnya.

Cipto menambahkan premi pada sektor tersebut juga mengalami lonjakan signifikan seiring meningkatnya risiko pelayaran global.

“Preminya naik sangat tinggi. Yang sebelumnya hanya sekitar 0,2% atau 0,3%, sekarang bisa mencapai 3% dan bahkan lebih, jadi naik berkali-kali lipat,” katanya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri