Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Insularitas Jadi Ancaman Baru terhadap Kepercayaan Masyarakat di Indonesia

Insularitas Jadi Ancaman Baru terhadap Kepercayaan Masyarakat di Indonesia Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Warta Ekonomi, Jakarta -

Edelman merilis laporan terbaru bertajuk 2026 Edelman Trust Barometer Indonesia Report: Trust Amid Insularity. Ia mengungkap meningkatnya pola pikir insular dalam masyarakat dari Indonesia.

Managing Director Edelman Indonesia, Nia Pratiwi mengatakan masyarakat masih menunjukkan tingkat kepercayaan tinggi terhadap berbagai institusi, namun cara membangun kepercayaan kini mulai berubah.

Baca Juga: Mayoritas Kerja Informal, Rata-rata Gaji Pekerja RI Cuma Rp3,29 Juta

“Masyarakat kini menjadi lebih selektif, lebih memilih hal-hal yang terasa familiar, dan menghindari interaksi dengan sudut pandang yang berbeda. Kepercayaan kini semakin terkonsentrasi dalam lingkaran yang lebih dekat dan personal, sehingga insularitas dapat dilihat sebagai krisis kepercayaan berikutnya,” ujar Nia Pratiwi.

Laporan tersebut menunjukkan rata-rata 66% masyarakat memiliki pola pikir insular, yakni kecenderungan ragu atau enggan mempercayai orang lain yang memiliki perbedaan nilai, sumber informasi, pandangan sosial, maupun latar belakang.

Namun Indonesia tetap termasuk negara dengan tingkat kepercayaan tertinggi secara global dengan skor mencapai 73 poin. Skor tersebut mencakup tingkat kepercayaan terhadap bisnis, pemerintah, media, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Kepercayaan tertinggi tercatat terhadap pemberi kerja atau my employer dengan tingkat kepercayaan mencapai 92% di kalangan karyawan. Posisi berikutnya ditempati bisnis sebesar 80%, pemerintah 68%, dan LSM 67%.

Laporan Edelman juga menyoroti empat tekanan utama yang memengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat dari Indonesia.

Pertama, meningkatnya kekhawatiran ekonomi. Sebanyak 79% karyawan khawatir kehilangan pekerjaan akibat resesi ekonomi. Sementara 77% cemas konflik perdagangan dan tarif dapat berdampak negatif terhadap perusahaan tempat mereka bekerja.

Kedua, menurunnya tingkat optimisme masyarakat. Sebanyak 56% responden percaya generasi mendatang akan hidup lebih baik, namun angka tersebut turun sembilan poin dibanding tahun sebelumnya.

Ketiga, meningkatnya kesenjangan kepercayaan berdasarkan kelompok pendapatan. Edelman mencatat terdapat selisih 26 poin tingkat kepercayaan antara kelompok berpenghasilan tinggi dan rendah di Indonesia.

Keempat, krisis informasi yang semakin meningkat. Kekhawatiran terhadap penyebaran misinformasi oleh pihak asing melonjak menjadi 72%, naik 15 poin dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu, paparan masyarakat terhadap pandangan politik yang berbeda justru turun 11 poin.

Pola pikir insular tersebut juga dinilai mulai memengaruhi dinamika dunia kerja dan lingkungan bisnis di Indonesia.

Sebanyak 35% karyawan mengaku akan mengurangi upaya membantu pimpinan proyek apabila memiliki pandangan politik berbeda. Selain itu, 43% responden memilih pindah departemen dibanding bekerja di bawah atasan dengan nilai berbeda, sementara 38% mendukung pengurangan perusahaan asing meski berpotensi menyebabkan kenaikan harga barang di Indonesia.

Menurut Nia, kondisi tersebut dapat memengaruhi produktivitas kerja dan pengambilan keputusan dalam organisasi. Namun, ia menilai membangun kepercayaan di tengah perbedaan masih memungkinkan dilakukan.

“Kabar baiknya, membangun kepercayaan di tengah perbedaan masih mungkin dilakukan. Secara global, mereka yang sudah mempercayai seseorang yang berbeda cenderung bisa membangun kepercayaan ketika individu tersebut berpikiran terbuka dan tidak memaksakan pandangannya,” katanya.

Dalam laporan tersebut, pemberi kerja dinilai menjadi institusi dengan posisi paling strategis untuk menjembatani perbedaan dan membangun kepercayaan di lingkungan kerja.

Sebanyak 80% responden juga berharap pengusaha mengambil peran aktif dalam proses tersebut, termasuk dengan melibatkan individu dari latar belakang berbeda dalam pengambilan keputusan serta menjalin komunikasi konstruktif dengan kelompok pengkritik perusahaan.

Baca Juga: Pengusaha Amerika Serikat Kena Peringatan: Jangan Menyalahgunakan AI

Adapun Edelman Trust Barometer 2026 merupakan survei tahunan ke-26 yang dilakukan oleh Edelman Trust Institute. Ia melibatkan 33.938 responden di 28 negara, termasuk Indonesia. Pengumpulan data dilakukan pada Oktober hingga November 2025.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Tag Terkait: