Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Harga Pangan Diklaim Terkendali, tapi Cabai Merah Masih Bikin Ketar-Ketir

Harga Pangan Diklaim Terkendali, tapi Cabai Merah Masih Bikin Ketar-Ketir Kredit Foto: Antara/Aditya Pradana Putra
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pemerintah memastikan kondisi harga pangan nasional hingga pekan kedua Mei 2026 masih relatif terkendali. Namun di balik stabilnya sejumlah komoditas utama, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyoroti satu persoalan yang dinilai masih menjadi pekerjaan rumah besar, yakni distribusi pangan.

Menurut Tito, gejolak harga saat ini masih didominasi komoditas cabai merah meski Indonesia sebenarnya sudah mencapai swasembada untuk produk tersebut.

"Masih dominan itu masalah cabai merah, padahal cabai itu kita sebetulnya sudah swasembada. Ini pastinya masalahnya distribusi. Kemudian minyak goreng, bawang merah, gula pasir, beras relatif terkendali. Perlu kita waspadai betul, tentu komoditas beras, ini makanan pokok. Minyak goreng itu juga penting sekali, daging sapi dan daging ayam ras," kata  Tito saat memimpin Rapat Pengendalian Inflasi di Jakarta, dikutip Selasa (19/5/2026).

Meski begitu, Tito menilai intervensi pemerintah sejauh ini cukup efektif, terutama untuk menekan harga daging ayam ras di berbagai daerah.

Baca Juga: Prabowo: Ketahanan Pangan Penentu Negara Bisa Bertahan

"Pada posisi daging ayam ras relatif terkendali. 232 daerah mengalami penurunan kabupaten kota. Ini cukup baik artinya intervensi cukup baik dari Bulog maupun dari Badan Pangan Nasional, Kementerian Pertanian bagus," tambah Mendagri Tito.

Berdasarkan data perubahan Indeks Perkembangan Harga (IPH) minggu kedua Mei, harga daging ayam ras mengalami penurunan di 232 kabupaten/kota. Sementara telur ayam ras mencatat penurunan IPH di 246 kabupaten/kota.

Kedua komoditas unggas tersebut sebelumnya juga mengalami deflasi pada April 2026.

Di tengah kondisi itu, Tito meminta seluruh pihak tetap waspada terhadap potensi tekanan inflasi yang dipicu kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah.

"Kita masih bersyukur bahwa inflasi year on year masih di angka 2,42 persen di bulan April. Namun bulan Mei ini kita harus mengamati betul perkembangan dari dampak terutama kenaikan harga minyak dan juga kurs mata uang," kata Tito.

Sementara itu, Badan Pangan Nasional mulai menyiapkan langkah intervensi baru lantaran harga ayam dan telur di tingkat peternak justru terlalu rendah dan berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP).

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan kondisi tersebut mulai dikeluhkan peternak.

"Kami akan lakukan intervensi justru (terhadap) rendahnya harga ayam ras tingkat peternak. Ini di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) sudah 8 persen. Kemudian telur ayam ras sudah 8 persen. Ini sudah berteriak teman-teman (peternak) ini. Ini yang akan kami dorong juga mengembalikan (kewajaran). Ini dibawah HAP tapi harus naikkan lagi, tentu akan berdampak pada IPH," papar Ketut.

Baca Juga: Prabowo Bangun 10 Gudang Pangan dan Luncurkan 166 SPPG

Dalam pemantauan harga hingga 17 Mei 2026, rata-rata harga ayam pedaging hidup secara nasional tercatat Rp22.783 per kilogram atau 8,87 persen di bawah HAP Rp25.000 per kilogram.

Sementara harga telur ayam ras berada di level Rp24.356 per kilogram atau 8,09 persen di bawah HAP yang ditetapkan sebesar Rp26.500 per kilogram.

Lebih lanjut, pemerintah juga terus menjalankan program SPHP jagung pakan untuk menjaga kestabilan biaya produksi peternak. Dalam program tersebut, harga jagung pakan dipatok Rp5.000 per kilogram di Gudang Bulog dan maksimal Rp5.500 per kilogram di tingkat peternak.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri

Tag Terkait: