Platform E-Commerce Mulai Kejar Untung, Konsumen Terancam Kena Dampak
Kredit Foto: Antara/Muhammad Bagus Khoirunas
Ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, menilai kenaikan komisi dan biaya layanan di platform e-commerce seperti TikTok Shop berpotensi menekan permintaan konsumen karena masyarakat Indonesia masih sangat sensitif terhadap harga.
Menurut Huda, konsumen domestik hingga saat ini masih berorientasi pada harga atau price oriented consumer. Karena itu, setiap kenaikan biaya di platform, baik berupa biaya administrasi maupun ongkos logistik, berisiko membuat konsumen beralih ke produk atau platform yang menawarkan harga lebih murah.
“Ketika ada kenaikan harga dari platform, baik biaya administrasi ataupun biaya logistik, maka akan terjadi penurunan permintaan,” ujar Huda kepada Warta Ekonomi, Selasa (19/5/2026).
Ia menjelaskan, meskipun kenaikan biaya dibebankan kepada penjual, pada akhirnya biaya tersebut tetap akan diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga barang. Kondisi itu dinilai dapat memperlambat permintaan di platform e-commerce.
Di sisi lain, penjual (seller) juga memiliki alternatif lain untuk berjualan melalui kanal social commerce yang dinilai memiliki biaya operasional lebih rendah dibanding marketplace besar.
Huda menilai langkah platform menaikkan komisi tidak terlepas dari perubahan strategi bisnis perusahaan teknologi digital yang kini mulai fokus mengejar profitabilitas. Menurut dia, pada masa awal ekspansi, platform masih berani membakar uang demi mengejar valuasi dan pertumbuhan pengguna.
Baca Juga: Setelah Ojol, Pemerintah Bakal Tertibkan Komisi E-Commerce Agar UMKM Tak Banyak Potongan Biaya
Baca Juga: Lewat Aturan Baru, Pemerintah Siapkan Potongan Biaya Layanan E-Commerce 50 Persen
Baca Juga: Kemendag Dorong Platform E-Commerce Prioritaskan Produk Lokal di Tengah Polemik Biaya Seller
Namun kini, kondisi pendanaan yang semakin ketat membuat perusahaan digital harus mulai mencatatkan keuntungan, terlebih setelah sebagian platform melantai di bursa saham dan dituntut menunjukkan kinerja positif kepada investor.
“Aksi platform ini tidak lepas dari pergeseran strategi platform yang sekarang sudah mulai mengejar keuntungan,” katanya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: