Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Eks Menteri ESDM Sudirman Said Bicara soal Blackout Sumatra, 'it it beyond regulations'

Eks Menteri ESDM Sudirman Said Bicara soal Blackout Sumatra, 'it it beyond regulations' Kredit Foto: Andi Hidayat
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pulau Sumatra mengalami pemadaman listrik massal (blackout) serentak pada akhir pekan lalu, Jumat malam, 22 Mei 2026. Kejadian tersebut melumpuhkan enam provinsi di wilayah tersebut.

Menurut keterangan PT PLN (Persero), penyebab utama adalah gangguan pada ruas transmisi 275 kV antara Muara Bungo dan Sungai Rumbai di Jambi akibat cuaca buruk, termasuk petir. Gangguan ini menyebabkan terpisahnya sistem Sumatera Bagian Utara dan Tengah, memicu efek domino penurunan frekuensi dan pemadaman meluas.

Menanggapi hal itu, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said menyoroti masalah tata kelola kelistrikan nasional dalam kasus blackout di Sumatra.

Dalam video berjudul “Blackout Sumatra: Ada Apa dengan PLN Kita?”, ia mengakui memang benar kemungkinan petir sebagai pemicu, namun petir itu menyambar hampir setiap hari, ia lantas mempertanyakan kesiapan dan ketahanan sistem PLN menghadapi gangguan alam yang sebenarnya dapat diprediksi.

"Ini soal tata kelola, it it beyond regulations, melampui soal aturan-aturan, di sana ada leadership dan cara menyikapi keadaan, kalau soal petir, petir itu menyambar di mana-mana tiap hari di seluruh dunia, bedanya negara yang siaga atau tidak. Seharusnya backup system diperjelas, menurut saya agak keterlaluan, harusnya PLN punya proteksi berlapis, ini puncak gunung es, di permukaan cuma lampu mati semalam, tapi mungkin ada gejala yang lebih serius, apakah sistem yang ada demikian rapuh, apa leadership cukup efektif? gimana fokus PLN ke pelayanan warga atau tidak," katanya.

"Blackout ini menjadi wake-up call bagi PLN dan sektor energi. Kita tidak tahu kapan banjir datang, petir menyambar, atau pohon tumbang. Namun kesiapan penyelenggara listrik harus selalu tinggi,” ujar Sudirman Said.

Ia juga menekankan pentingnya transparansi dari PLN dalam menjelaskan akar masalah yang sebenarnya.

Sebelumnya, PLN telah menyampaikan permohonan maaf dan memastikan pemulihan sistem secara bertahap. Hingga Senin (25/5/2026), sebagian besar wilayah Sumatra telah kembali normal. Namun, peristiwa ini memicu perdebatan publik tentang keandalan infrastruktur transmisi dan budaya pemeliharaan preventif di PLN.

Peristiwa blackout Sumatra menjadi pengingat penting akan kerentanan sistem kelistrikan nasional, terutama di tengah tantangan cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat

Tag Terkait: