- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
DSI Berpotensi Hambat Transisi Energi, Harga Batu Bara Bakal Makin Murah
Kredit Foto: KESDM
Selain berdampak terhadap pengembangan EBT, Andry menilai terganggunya ekspor batu bara juga berpotensi menekan penerimaan negara. Ia mengingatkan sekitar 80 persen Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor energi dan sumber daya mineral masih ditopang oleh komoditas batu bara.
Karena itu, apabila harga batu bara turun akibat kelebihan pasokan di pasar domestik, kontribusi sektor tersebut terhadap penerimaan negara juga berpotensi melemah.
Menurut Andry, kondisi tersebut justru dapat kontraproduktif terhadap tujuan pemerintah memperbaiki tata kelola perdagangan komoditas, termasuk upaya menekan praktik under invoicing dan transfer pricing.
Lebih jauh, ia menilai kebijakan yang dinilai menambah ketidakpastian berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap Indonesia.
Andry mengungkapkan Moody's dan Fitch telah menurunkan outlook atau prospek Indonesia menjadi negatif. Menurutnya, lembaga pemeringkat menilai kredibilitas kebijakan pemerintah menurun dan arah kebijakan menjadi semakin sulit diprediksi. Kehadiran DSI, kata dia, berpotensi menambah kekhawatiran pelaku pasar.
''Bila terus berlanjut, tindakan berikutnya menurunkan peringkat lebih rendah lagi. Kalau dibiarkan, penurunan dari BBB ke BBB- merupakan keniscayaan. Ini posisi paling rendah dalam kategori tingkat investasi (investment grade), terpaut satu langkah dari level tingkat spekulasi (speculative grade),” tutup Andry.
Baca Juga: Pakar Energi UI soal PLTS 100 GW: Butuh Lahan Setara 70 Ribu Lapangan Bola
Di tengah berbagai tantangan tersebut, pemerintah tetap berupaya mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan guna meningkatkan porsi energi bersih dalam bauran energi nasional.
Hingga akhir 2025, bauran EBT Indonesia tercatat mencapai 15,75%, meningkat dibandingkan realisasi tahun 2024 yang sebesar 14,65%.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: