- Home
- /
- EkBis
- /
- Agribisnis
RI Masih Impor 75% Susu, Kementan Bidik Produksi Sapi Perah Tembus 25 Liter per Hari
Kredit Foto: Dokumentasi Kemenko Pangan
Kemudian, selama puluhan tahun, peternakan sapi perah di Indonesia sangat bergantung pada lahan bersuhu sejuk di dataran tinggi. Namun, keterbatasan ketersediaan lahan di kawasan pegunungan mendorong pelaku usaha mulai melirik potensi pengembangan peternakan di wilayah dataran rendah.
Makmun menyoroti tren pembangunan peternakan sapi perah di dataran rendah yang mulai berkembang dalam beberapa tahun terakhir.
"Jadi sekarang sudah banyak industri juga yang bangun di dataran rendah, seperti sekarang yang ada di Subang, ada yang bangun di Brebes, itu dataran rendah semua Bapak Ibu sekalian," ungkap Makmun.
Menurutnya, keberhasilan budidaya sapi perah di dataran rendah sangat bergantung pada penerapan teknologi modern yang mampu mengatur suhu dan lingkungan kandang agar tetap ideal bagi ternak.
Baca Juga: Modal Di Bawah Rp5 Miliar, Kementan Gagas Program DASI Untuk Pasok Susu Makan Bergizi Gratis
Baca Juga: Kebutuhan Susu Program MBG Meledak, BGN Cari Solusi Jangka Panjang
Makmun mencontohkan negara-negara dengan iklim panas seperti Uni Emirat Arab dan sejumlah negara di Timur Tengah yang tetap mampu mengembangkan industri sapi perah berkat dukungan teknologi.
"Kalau kita lihat di negara lain, Uni Emirat Arab, kemudian negara-negara Timur Tengah, juga memproduksi sapi perah," papar Makmun.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Muhammad Farhan Shatry
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: