Purbaya Tantang Kritik Soal Perhitungan Ekonomi: Mau Pakai Rumus yang Mana?
Kredit Foto: Dok. Kemenkeu
Data Kementerian Keuangan menunjukkan pendapatan negara hingga Mei 2026 mencapai Rp1.185 triliun atau tumbuh 19,1% secara tahunan (year on year/yoy). Di sisi lain, belanja negara mencapai Rp1.365,4 triliun atau meningkat 34,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dengan realisasi tersebut, APBN mencatat defisit Rp180,4 triliun atau setara 0,7% terhadap PDB. Angka ini meningkat dibandingkan posisi April 2026 yang tercatat sebesar Rp164,4 triliun atau 0,64% terhadap PDB.
Meski demikian, Purbaya menilai kualitas fiskal justru membaik, tercermin dari surplus keseimbangan primer yang kembali menguat.
“Yang penting lagi adalah surplus keseimbangan primernya sekarang Rp58,6 triliun, sudah positif lagi. Artinya anggaran kita sekarang lebih berkesinambungan dibanding bulan-bulan sebelumnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa surplus keseimbangan primer meningkat signifikan dibandingkan April 2026 yang masih berada di kisaran Rp28 triliun. Kondisi tersebut menunjukkan kemampuan pemerintah membiayai pengeluaran di luar pembayaran bunga utang semakin kuat.
Purbaya juga menepis anggapan bahwa kebijakan fiskal pemerintah dilakukan secara agresif hingga berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah.
“Di situ menunjukkan bahwa memang anggaran kita bagus. Yang dibilang ugal-ugalan atau Purbaya membuat anggaran yang kacau sehingga mengganggu stabilitas nilai tukar, saya agak bingung dari mana. Dari sini bagus semua, pajaknya naik, defisit terjaga. Jadi kondisi fiskal amat baik,” tegasnya.
Menurut Purbaya, perbaikan penerimaan perpajakan dan kepabeanan menjadi faktor utama yang menjaga kesehatan fiskal di tengah tekanan ekonomi global. Ia memastikan jajaran Kementerian Keuangan akan terus menjaga disiplin anggaran agar defisit tetap terkendali hingga akhir tahun.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: