Kredit Foto: BPMI
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara yang sangat kaya sumber daya alam (SDA), mulai dari nikel, tembaga, emas hingga logam tanah jarang. Kekayaan tersebut dinilai dapat menjadi modal besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional di tengah meningkatnya kebutuhan dunia terhadap mineral kritis dan teknologi hijau.
Wakil Kepala Kajian Iklim Bisnis dan Rantai Nilai Global LPEM FEB UI, Dr. Ruth Ruth Elisabeth, menilai potensi sumber daya alam Indonesia memang sangat besar untuk menjadi mesin pertumbuhan ekonomi di masa depan.
"Potensinya sangat besar karena SDA dapat menjadi sumber ekspor, investasi, penerimaan negara, industrialisasi, dan penciptaan lapangan kerja. Indonesia memiliki posisi kuat pada mineral strategis seperti nikel, tembaga, emas, bauksit, timah, serta potensi logam tanah jarang, sehingga dapat memanfaatkan kebutuhan global terhadap mineral kritis," ujarnya.
Menurut Ruth, sumber daya alam dapat membantu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia yang pada 2025 tercatat tumbuh 5,11 persen. Namun, ia mengingatkan bahwa kekayaan alam tidak otomatis menjamin kesejahteraan masyarakat.
"Namun, SDA tidak otomatis menjamin kesejahteraan, apalagi jika hanya diekspor sebagai bahan mentah atau diolah secara terbatas. Manfaatnya bisa kecil, rentan terhadap fluktuasi harga komoditas, dan dapat menimbulkan biaya lingkungan yang serius," katanya.
Ia juga menilai pemerintah perlu menaruh perhatian yang sama terhadap hilirisasi sektor pertanian, mengingat sektor tersebut berpotensi meningkatkan kesejahteraan jutaan petani sekaligus mendukung industri makanan dan minuman nasional.
Baca Juga: 'Secara Logika Ya Boleh Saja,' Purbaya Tak Masalah Prabowo Nombok Biaya Kunker ke Luar Indonesia
Hilirisasi Harus Naik Kelas
Ruth menilai kebijakan hilirisasi yang selama ini dijalankan pemerintah memiliki peran penting untuk memastikan nilai tambah sumber daya alam dapat dinikmati lebih besar di dalam negeri.
"Hilirisasi sangat penting karena dapat memindahkan sebagian nilai tambah dari luar negeri ke dalam negeri. Hilirisasi mendorong investasi, ekspor manufaktur berbasis SDA, penerimaan negara, dan penciptaan lapangan kerja," jelasnya.
Ia mencatat bahwa pada 2025 realisasi investasi hilirisasi mencapai sekitar Rp584,1 triliun, sementara ekspor besi dan baja pada Januari-Juni 2025 mencapai US$13,79 miliar atau meningkat 9,79 persen secara tahunan.
Meski demikian, Ruth mengingatkan bahwa manfaat hilirisasi dapat berkurang apabila hanya berhenti pada pembangunan smelter dan belum menghasilkan transfer teknologi yang memadai.
"Untuk membalik kondisi tersebut, hilirisasi harus naik kelas dari sekadar pengolahan dasar menuju industri antara dan industri akhir, sehingga nilai tambahnya lebih banyak tertinggal di dalam negeri," katanya.
Ia juga menekankan pentingnya membaca perkembangan teknologi global, termasuk perubahan tren industri baterai yang kini mulai bergeser dari teknologi berbasis nikel ke lithium iron phosphate (LFP).
Baca Juga: Dukung Hilirisasi Daerah, Kemenperin Dekatkan Layanan Sertifikasi ke Pelaku Usaha
Posisi Strategis Indonesia dalam Transisi Energi Global
Di tengah meningkatnya kebutuhan dunia terhadap kendaraan listrik dan energi bersih, Indonesia dinilai memiliki posisi yang sangat strategis dalam rantai pasok global.
"Posisi Indonesia sangat strategis karena dunia membutuhkan mineral kritis untuk transisi energi, kendaraan listrik, baterai, jaringan listrik, dan teknologi hijau," ujar Ruth.
Ia menjelaskan bahwa permintaan global terhadap berbagai mineral energi masih terus meningkat. Pada 2024, permintaan lithium tumbuh hampir 30 persen, sementara permintaan nikel, kobalt, grafit, dan rare earth meningkat sekitar 6 hingga 8 persen.
Namun, menurutnya peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan secara optimal apabila Indonesia mampu memenuhi standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) yang semakin menjadi perhatian dunia.
"Namun, peluang ini tidak dapat dimanfaatkan secara optimal jika Indonesia tidak mampu memenuhi standar ESG yang akan menjadi tren masa depan, tidak memiliki teknologi pengolahan lanjutan, atau hanya menjadi pemasok bahan baku," katanya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Istihanah
Editor: Istihanah