Kredit Foto: BTN
Selain meningkatkan kualitas kredit baru, implementasi Loan Factory juga mendorong efisiensi operasional secara signifikan. Waktu pemrosesan kredit yang sebelumnya berkisar 10–14 hari berhasil dipangkas menjadi sekitar 4–7 hari. Tingkat straight-through processing juga meningkat menuju kisaran 70%, sementara tingkat rework atau proses ulang berhasil ditekan hingga di bawah 15%.
BTN juga memperkuat pengelolaan portofolio melalui pendekatan Cluster Collection, yaitu model penanganan kredit berbasis segmentasi risiko, karakteristik debitur, serta perilaku pembayaran. Melalui pendekatan ini, proses monitoring, restrukturisasi, penagihan, hingga pemulihan kredit dapat dilakukan secara lebih fokus, cepat, dan efektif.
“Perbaikan kualitas aset yang kami capai saat ini merupakan hasil dari transformasi menyeluruh, baik pada proses akuisisi kredit baru maupun pengelolaan portofolio eksisting. Kami akan terus memperkuat disiplin risiko, tata kelola, dan pemantauan portofolio agar kualitas kredit tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi yang berkembang,” tambah Setiyo.
Baca Juga: Pacu Dana Murah dan Pendapatan, BTN Percepat Transformasi Ekosistem Perbankan
Ke depan, BTN optimistis rasio NPL Perseroan dapat terus ditekan secara bertahap sejalan dengan strategi pertumbuhan kredit yang lebih selektif, penguatan kualitas kredit baru, serta percepatan penyelesaian portofolio lama.
Khusus pada segmen pembiayaan perumahan, BTN menargetkan rasio NPL KPR dapat terus membaik dan dijaga di bawah 2,5% pada akhir 2026 melalui penguatan kualitas kredit baru, optimalisasi early warning system, serta strategi penagihan dan penyelesaian kredit yang semakin berbasis risiko.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Fajar Sulaiman