Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

'Tak Perlu Khawatir Berlebihan,' Luhut Sebut Pemerintah Sedang Benahi Titik-titik Masalah Rupiah

'Tak Perlu Khawatir Berlebihan,' Luhut Sebut Pemerintah Sedang Benahi Titik-titik Masalah Rupiah Kredit Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan meminta masyarakat tidak panik menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah. Menurutnya, pemerintah saat ini terus melakukan pembenahan di berbagai sektor ekonomi untuk menjaga stabilitas nasional di tengah tekanan global yang meningkat.

Luhut menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia masih berada dalam jalur yang relatif aman meskipun menghadapi gejolak eksternal, termasuk konflik geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada pasar keuangan global.

Baca Juga: 'Masalahnya Dimana?' Sony Sonjaya Klaim Tak Langgar Aturan Meski Orang Terdekatnya Punya Dapur MBG

"Kita tidak perlu terlalu berkhawatir berlebihan ya. Kita perbaikin di sana sini," kata Luhut di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Pernyataan itu disampaikan setelah Bank Indonesia memutuskan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah untuk memperkuat stabilitas rupiah yang belakangan mendapat tekanan akibat ketidakpastian global.

Luhut menilai keputusan bank sentral tersebut merupakan langkah yang tepat untuk meredam pelemahan mata uang nasional.

"Kan bagus, ngerem anu (pelemahan rupiah)," ujarnya.

Meski demikian, Luhut mengakui pemerintah tidak menutup mata terhadap sejumlah risiko yang masih membayangi perekonomian nasional. Salah satu perhatian utama saat ini adalah ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Menurutnya, konflik yang berkaitan dengan kawasan Teluk dan jalur strategis energi dunia berpotensi memicu tekanan lanjutan terhadap pasar keuangan internasional, termasuk nilai tukar berbagai mata uang negara berkembang.

"Ekonomi kita, fundamental masih oke, tapi memang kita perlu ada perhatian di beberapa titik karena perang Teluk ini juga masih, perang Hormuz ini masih berkelanjutan," kata Luhut.

Di tengah situasi tersebut, pemerintah memilih fokus memperkuat fondasi ekonomi domestik daripada bereaksi berlebihan terhadap gejolak jangka pendek. Strategi itu dilakukan melalui koordinasi erat antara pemerintah dan otoritas moneter untuk menjaga kepercayaan investor serta stabilitas pasar.

Sebelumnya, Bank Indonesia menjelaskan bahwa kenaikan BI-Rate dilakukan sebagai respons terhadap meningkatnya ketidakpastian global, keluarnya sebagian aliran modal asing dari pasar domestik, volatilitas pasar keuangan internasional, serta meningkatnya kebutuhan valuta asing di dalam negeri.

Bank sentral meyakini suku bunga yang lebih tinggi dapat menjaga daya tarik aset keuangan Indonesia, membantu menahan tekanan terhadap rupiah, serta memastikan inflasi tetap terkendali.

Di tengah berbagai tantangan global tersebut, pesan yang ingin disampaikan pemerintah cukup jelas. Pelemahan rupiah memang menjadi perhatian, namun belum berada pada tingkat yang mengkhawatirkan seperti krisis ekonomi yang pernah dialami Indonesia pada 1998.

Baca Juga: Hubungan Amerika dan Israel Memanas, Kabinet Netanyahu Dibuat Kesal Trump Soal Perang Iran

Karena itu, alih-alih panik, pemerintah memilih fokus melakukan pembenahan di berbagai titik ekonomi sambil menjaga stabilitas agar dampak gejolak global tidak merembet lebih dalam ke perekonomian nasional.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar