Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Beda Nasib Amerika dan Indonesia, Trump Melenggang Bebas Persulit Iran di Piala Dunia 2026

Beda Nasib Amerika dan Indonesia, Trump Melenggang Bebas Persulit Iran di Piala Dunia 2026 Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Piala Dunia 2026 bahkan belum resmi dimulai, tetapi pertanyaan besar sudah bermunculan di dunia sepak bola internasional: apakah turnamen ini masih berada di bawah kendali FIFA atau justru tunduk pada kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump?

Pertanyaan itu menguat setelah rentetan kontroversi imigrasi dan pembatasan akses terus terjadi menjelang kick-off turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Baca Juga: Amerika Tiba-tiba Hentikan Serangan ke Iran, Klaim 'Sudah Puas' Hancurkan Fasilitas dari Teheran

Kasus terbaru datang dari Iran. Federasi Sepak Bola Iran mengklaim alokasi tiket resmi untuk suporternya dicabut sehingga mereka tidak lagi dapat mendistribusikan tiket kepada pendukung tim nasional.

Sebelumnya, sejumlah pejabat federasi Iran juga dilaporkan gagal memperoleh visa untuk masuk ke Amerika Serikat. Kontroversi tidak berhenti di sana.

Wasit Piala Dunia asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan yang telah ditunjuk FIFA untuk memimpin pertandingan resmi, ditolak masuk ke Amerika Serikat dan akhirnya dicoret dari daftar perangkat pertandingan.

Delegasi Irak juga mengalami masalah serupa. Penyerang Aymen Hussein sempat ditahan berjam-jam saat tiba di Amerika Serikat, sementara fotografer tim nasional Irak bahkan ditolak masuk.

Serangkaian insiden tersebut memunculkan kritik dari berbagai pihak. Direktur Fare Network, Piara Powar yang merupakan mitra FIFA dalam pemantauan diskriminasi, secara terbuka mempertanyakan siapa yang sebenarnya mengendalikan turnamen ini.

"Harus muncul pertanyaan siapa yang menjalankan Piala Dunia. FIFA atau pemerintah Amerika Serikat dengan kebijakan imigrasinya yang sarat kontroversi?" katanya.

Kritik tersebut menjadi semakin sensitif karena FIFA selama ini menegaskan bahwa setiap tim, ofisial, dan suporter yang lolos ke Piala Dunia harus memiliki akses untuk menghadiri turnamen.

Bahkan pada 2017, Presiden FIFA Gianni Infantino pernah menegaskan bahwa tanpa akses bagi tim dan suporternya, sebuah negara tidak layak menjadi tuan rumah Piala Dunia.

Situasi ini juga mengingatkan publik pada keputusan FIFA mencabut status Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 2023 setelah muncul penolakan terhadap kehadiran Israel.

Kala itu FIFA mengambil langkah tegas dengan membatalkan hak tuan rumah Indonesia. Namun kini, ketika berbagai hambatan muncul akibat kebijakan Amerika Serikat terhadap peserta Piala Dunia 2026, FIFA justru dinilai memilih jalur diplomasi dan negosiasi.

Perbedaan respons tersebut memicu perdebatan baru mengenai konsistensi FIFA dalam menegakkan prinsip non-diskriminasi dan akses setara bagi seluruh peserta.

Baca Juga: 'PHK dan Sembako Naik,' Dadan Hindayana Dicap Biang Kerok Hidup Rakyat Makin Berat Lewat Korupsi MBG

Dengan semakin banyaknya kasus yang melibatkan pemain, ofisial, wasit, hingga suporter, sorotan terhadap hubungan antara FIFA dan Amerika Serikat diperkirakan akan terus membesar sepanjang berlangsungnya Piala Dunia 2026. Turnamen yang seharusnya menjadi perayaan sepak bola global kini mulai dibayangi pertanyaan tentang batas antara olahraga, politik, dan kedaulatan negara tuan rumah.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar