Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Harga Bensin Akan Segera Kembali Normal Usai Perang Iran dan Amerika, Kata Trump

Harga Bensin Akan Segera Kembali Normal Usai Perang Iran dan Amerika, Kata Trump Kredit Foto: Pertamina
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meyakini lonjakan harga energi yang terjadi akibat perang dengan Iran hanya bersifat sementara. Ia bahkan menjanjikan harga bensin dan minyak akan kembali turun drastis setelah konflik di Timur Tengah berakhir.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat menanggapi data inflasi terbaru Amerika Serikat yang menunjukkan kenaikan harga konsumen mencapai 4,2 persen pada Mei 2026, tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Baca Juga: 'Teheran Baru Sadar,' Amerika Klaim Tiap Malam Selundupkan Tanker Minyak Lewati Blokade Iran

Kenaikan inflasi tersebut terutama dipicu melonjaknya harga energi setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terus memanas dalam beberapa bulan terakhir. Meski demikian, Trump menilai kondisi tersebut tidak akan berlangsung lama.

"Ketika konflik ini berakhir, Anda akan melihat harga minyak turun kembali ke level sebelum perang," kata Trump, dikutip Kamis (11/6).

Trump bahkan mengaku optimistis harga bensin di Amerika Serikat dapat kembali ke level murah seperti yang pernah ia lihat saat berkunjung ke Iowa pada awal 2026. Saat itu, menurut Trump, bensin dijual sekitar 1,85 dolar AS per galon.

"Kita akan kembali ke level itu dalam waktu dekat," ujarnya.

Presiden dari Partai Republik tersebut juga mengungkapkan operasi rahasia yang dilakukan Amerika Serikat di tengah konflik dengan Iran.

Trump mengklaim militer Amerika berhasil mengeluarkan jutaan barel minyak melalui Selat Hormuz pada malam hari tanpa terdeteksi Iran. Menurutnya, operasi tersebut turut membantu menahan kenaikan harga minyak dunia agar tidak melonjak lebih tinggi.

"Kami telah mengeluarkan jutaan barel minyak setiap malam. Itulah mengapa harga minyak berada di kisaran 85 hingga 90 dolar AS per barel, bukan 250 dolar AS," kata Trump.

Namun, data pasar menunjukkan harga minyak dunia masih jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum perang pecah. Minyak mentah Brent hingga kini masih bertahan di atas level pra-konflik, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bergerak mendekati 90 dolar AS per barel.

Lonjakan harga energi juga mulai dirasakan langsung oleh masyarakat Amerika Serikat. Data kelompok otomotif AAA menunjukkan harga rata-rata bensin reguler di Amerika kini mencapai 4,15 dolar AS per galon.

Angka tersebut melonjak tajam dibandingkan 2,98 dolar AS per galon pada 28 Februari 2026, saat Amerika mulai melancarkan serangan terhadap Iran.

Tekanan terhadap harga energi semakin besar setelah Iran secara efektif membatasi lalu lintas di Selat Hormuz, jalur strategis yang selama ini menjadi rute pengiriman sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

Gangguan distribusi energi dari kawasan tersebut membuat biaya bahan bakar, listrik, hingga transportasi terus meningkat.

Selain energi, data inflasi Amerika juga menunjukkan kenaikan harga tiket pesawat, layanan kesehatan, komunikasi, dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya.

Meski demikian, Trump tetap bersikeras bahwa tekanan inflasi saat ini hanya merupakan dampak sementara dari perang. Ia menegaskan pemerintahannya masih optimistis kondisi ekonomi akan membaik begitu konflik dengan Iran berhasil diakhiri dan jalur perdagangan energi global kembali berjalan normal.

Namun sejumlah ekonom memperingatkan pemulihan pasokan energi global tidak akan terjadi secara instan. Bahkan jika perang berakhir dalam waktu dekat, arus perdagangan melalui Selat Hormuz diperkirakan baru bisa pulih sepenuhnya pada 2027.

Baca Juga: 'Saya Kasih Hadiah,' Klarifikasi Dudung usai Namanya Terseret Isu Proyek Dapur MBG

Situasi tersebut membuat inflasi dan harga energi tetap menjadi salah satu tantangan terbesar bagi pemerintahan Trump menjelang pemilu sela Amerika Serikat yang akan digelar pada November mendatang.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar