- Home
- /
- EkBis
- /
- Agribisnis
Lawan Alih Fungsi Lahan Karawang, Begini Upaya Petani Adaptasi Kerek Tonase Gabah GKG
Kredit Foto: Antara/Basri Marzuki
Dinamika alih fungsi lahan pertanian produktif menjadi kawasan industri memberikan tekanan berat bagi target kuota produksi pangan daerah. Meski pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pengendalian Alih Fungsi Lahan Sawah, sejumlah produsen masih mengalami kendala dalam melawan alif fungsi lahan yang kini menjadi sorotan.
Guna mengakali krisis lahan tersebut saat ini, intensifikasi pertanian melalui adopsi bahan kimia pelindung tanaman menjadi solusi paling rasional. Upaya ini bahkan diterapkan di Karawang, Jawa Barat sebagai langkah peningkatan produksi pangan walau dengan ketersediaan lahan yang masih tersedia.
Presiden Direktur Syngenta Indonesia, Eryanto mengatakan pihaknya meluncurkan teknologi fungisida mutakhir yang dapat menjamin produksi padi terutama pada Gabah Kering Giling (GKG) dapat terbebas dari serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Teknologi yang disebut sebagai MIRAVIS Duo ini, diyakini mampu mempertahankan rekor produksi beras kabupaten tersebut yang sempat menembus 1,19 juta ton pada tahun lalu.
“Karawang adalah simbol ketahanan pangan nasional, dan melalui peluncuran MIRAVIS Duo, kami ingin mendukung petani menjaga produktivitas sekaligus kualitas panen di tengah tantangan iklim dan alih fungsi lahan. Ini adalah wujud nyata visi Petani MAJU yaitu meningkatkan hasil panen, mempercepat adopsi teknologi, dan memperkuat kolaborasi demi pertanian yang berkelanjutan,” ujar Eryanto melalui keterangan persnya, Jumat (12/6/2026).
Serangan organisme pengganggu tanaman kerap menjadi faktor utama yang menghancurkan margin keuntungan petani di setiap siklus tanam. Penggunaan zat aktif modern memastikan proses metabolisme tanaman berjalan optimal tanpa gangguan penyakit endemik persawahan.
“Dengan teknologi ADEPIDYN, produk ini memberikan perlindungan konsisten terhadap penyakit padi, menghasilkan gabah sehat berkilau, serta menjaga daun bendera lebih hijau dan bersih. Perlindungan hingga 14 hari setelah aplikasi bahkan di bawah kondisi cuaca yang tidak menentu menjadikan MIRAVIS Duo solusi yang relevan bagi petani Karawang,” jelas Eryanto.
Sementara itu, Pemerintah daerah sangat berkepentingan menjaga stabilitas pasokan logistik pangan yang dihasilkan oleh puluhan ribu hektar sawah mereka. Standardisasi mutu gabah melalui intervensi teknologi swasta sangat selaras dengan desain besar tata ruang agribisnis kabupaten.
Baca Juga: Sektor Pertanian Raup Ekspor Rp167 Triliun, Pemerintah Wanti-Wanti Pengusaha Tak Rugikan Petani
Baca Juga: Amran Temukan Dugaan Penyimpangan Rp3,3 Miliar di Program Hilirisasi Pertanian
Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Karawang, Rohman.
“Sebagai lumbung padi nomor dua di Jawa Barat, Kabupaten Karawang memiliki kurang lebih 99 ribu hektar lahan, dengan 86 ribu hektar di antaranya masuk Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Kehadiran MIRAVIS Duo akan membantu memperkuat kualitas sekaligus kuantitas produksi padi Karawang. Apalagi saat ini kondisi padi di Karawang sedang bagus, baik dari sisi harga maupun produksi,” kata Rohman.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Muhammad Farhan Shatry
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: