Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Maju-mundur Kena, Posisi Netanyahu Kini Terpojok Usai Tercapainya Kesepakatan Damai Iran-Amerika

Maju-mundur Kena, Posisi Netanyahu Kini Terpojok Usai Tercapainya Kesepakatan Damai Iran-Amerika Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kesepakatan perdamaian yang mulai terbentuk antara Amerika Serikat (AS) dan Iran justru menempatkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam posisi politik yang paling sulit selama beberapa tahun terakhir. Sejumlah analis di Israel menilai Netanyahu kini berada di persimpangan berbahaya: mengikuti keinginan Presiden AS Donald Trump atau mempertahankan sikap kerasnya terhadap Iran dan Lebanon dengan risiko kehilangan dukungan politik.

Analis Politik Israel, Akiva Eldar menilai Netanyahu telah "menjebak dirinya sendiri" karena selama ini terlalu dekat dan bergantung pada Trump dalam berbagai isu keamanan dan diplomasi di Timur Tengah.

Baca Juga: 'Terlalu Banyak Konsesi,' Senator Amerika Nilai Trump Rugikan Negara Lewat Perjanjian dengan Iran

Menurut Eldar, menolak dorongan Trump untuk mengakhiri konflik di Lebanon dan mendukung kerangka perdamaian dengan Iran justru dapat menjadi langkah yang menghancurkan karier politik Netanyahu.

"Menolak Presiden Trump dan tetap melanjutkan kebijakan di Lebanon merupakan langkah bunuh diri baginya," kata Eldar kepada Al Jazeera, dikutip Kamis (18/6).

Ia menilai Netanyahu saat ini melihat seluruh perkembangan geopolitik melalui kacamata pemilu Israel yang semakin dekat.

"Netanyahu sedang bermain secara politik dan diplomatik dengan punggung menempel di tembok," ujarnya.

Situasi menjadi semakin rumit karena selama bertahun-tahun Netanyahu membangun citra sebagai satu-satunya pemimpin Israel yang berani menentang presiden Amerika Serikat jika kepentingan keamanan Israel dipertaruhkan.

Namun, apabila kali ini ia menerima dorongan Washington untuk mendukung kesepakatan dengan Iran, citra politik tersebut berpotensi runtuh.

Tekanan terhadap Netanyahu juga meningkat setelah muncul laporan bahwa dirinya bahkan belum menerima salinan final memorandum of understanding (MoU) antara AS dan Iran yang menjadi dasar kesepakatan baru di Timur Tengah.

Meski demikian, pejabat senior AS membantah Israel benar-benar dikesampingkan dalam proses tersebut. Washington mengaku terus memberikan pengarahan kepada Netanyahu dan timnya mengenai perkembangan negosiasi.

Bahkan, menurut seorang pejabat AS, Netanyahu secara pribadi mengakui bahwa apabila Iran benar-benar memenuhi komitmennya, maka kesepakatan tersebut dapat menjadi perjanjian bersejarah, meskipun baik Israel maupun AS masih menyimpan keraguan terhadap implementasinya.

Posisi Netanyahu semakin tertekan setelah media Israel, Channel 12, membocorkan isi utama memorandum AS-Iran yang memuat 12 poin penting.

Dokumen itu antara lain mengatur penghentian pertempuran di seluruh kawasan, termasuk Lebanon, komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, pelonggaran sanksi terhadap Teheran, hingga pembukaan kembali Selat Hormuz.

Kesepakatan tersebut juga membuka peluang pencairan sebagian aset Iran yang dibekukan dan penarikan pasukan AS dari kawasan apabila perjanjian final berhasil dicapai.

Bagi Netanyahu, isi dokumen tersebut berpotensi menjadi pukulan politik karena sebagian besar poin yang dibocorkan justru tidak mencerminkan tuntutan keras Israel selama ini, terutama terkait pembongkaran total program nuklir Iran dan tekanan maksimum terhadap Teheran.

Baca Juga: 'Saya Merasa Sedih,' Presiden Amerika Berikan Dukungannya ke Sekutu Iran Gegara Terus Dibom Israel

Di tengah dinamika tersebut, Perdana Menteri Israel kini menghadapi dilema besar: menerima arah baru diplomasi yang didorong Washington atau mempertahankan garis kerasnya dan berisiko berhadapan langsung dengan sekutu terpenting Israel, yakni Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar